Novel Orang-Orang Bertopeng (11)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

Salman memang berubah. Terutama sejak dipanggil pimpinan gerombolan orang bertopeng. Hasan bisa membaca perubahan itu. Tapi Hasan tidak cukup tahu bahwa perubahan itu sebenarnya sudah berlangsung lama. Tepatnya sejak Salman melihat foto Fatma. Ya, sejak itu sebenarnya Salman mulai berubah. Caranya bicara, caranya menatap, tidak seperti dulu-dulu lagi. Hasan terlalu lugu untuk mengerti hal itu. Hasan terlalu jujur untuk curiga pada teman sendiri. Hasan berpikir Salman berubah karena panggilan pimpinan gerombolan orang bertopeng. Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (11)”

Novel Orang-Orang Bertopeng (9)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

Perempuan tua yang ikut mengejar laju mobil terus berlari sekuat tenaga. Ia seperti tak mau ketinggalan dengan para lelaki yang mendahuluinya. Entah apa yang mendorong perempuan tua itu mengejar laju mobil. Bukankah lebih enak tinggal di rumah? Dan, jika memang perlu mengetahui kabar yang dibawa oleh pengendara mobil itu, bukankah juga lebih enak jika menunggu para lelaki itu pulang? Kalau memang benar hanya kabar yang ia butuhkan, sangat mudah didapat. Tetangga kanan kiri, bahkan tanpa diminta pun pasti akan bercerita. Jadi untuk apa ia mesti berlari? Untuk apa memaksakan diri? Salah-salah justru bisa celaka? Jatuh? Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (9)”

Novel Orang-Orang Bertopeng (8)

Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002

Teguh Winarsho AS

PEGASING, Desember 1973.
SUBUH pecah oleh suara tangis bayi memekak telinga. Beberapa orang yang masih lelap tidur terbangun seketika. Tidak sulit untuk menemukan di mana asal bunyi tangis bayi. Di kampung terpencil di tepi hutan itu, hanya ada seorang perempuan yang sedang hamil tua. Tentu, suara tangis itu berasal dari sana. Siang sedikit orang-orang datang berduyun-duyun sekadar memberi ucapan selamat dan melihat bayi yang baru lahir. Tapi ada juga yang membawa gula, teh, kopi, beras atau makanan ala kadarnya. Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (8)”

Bahasa ยป