
(Pelabuhan Muncar, Foto oleh Aditya Prayuga)
Taufiq Wr. Hidayat * Continue reading “ZAMAN”
MENAMPAR BULE
Ahmad Yulden Erwin *
Dulu saya pernah benar-benar ingin melihat serpih-serpih salju di D.C., tapi begini jelas satu keinginan naif pas awal musim semi. Mungkin butir-butir salju yang mungil dingin begitu sesekali memang perlu dirasakan juga, amat tepat muncul pada satu momen kemarahan pas kita merasa begitu diremehkan di negeri asing, tetapi tidak untuk sepotong ingatan kecil dari satu perjalanan, begini: Continue reading “MENAMPAR BULE”
Membaca Berlin Proposal-nya Afrizal Malna

Fatah Anshori * Continue reading “Membaca Berlin Proposal-nya Afrizal Malna”
Ulasan Malam Sekopi Sunyi; Kopi dan Puisi
Arif Saifudin Yudistira *
Kopi membuat matamu menyala, susu membuat matamu manja— Jokpin dalam Haduh, Aku di Follow (2013). Ekohm sepertinya memgamini sajak pendek dari Jokpin itu. Kopi adalah kosmologi untuk mendefinisikan malam, mendefinisikan kesunyian dan kesepian. Ratapan kebahagiaan, kerinduan, cinta, ataupun kegelisahan ada dalam kopi, dan malam hari. Continue reading “Ulasan Malam Sekopi Sunyi; Kopi dan Puisi”
Menebar Senyum Sambil Meraung
Kata Pengantar untuk Kumpulan Puisi Tangisan Kanal Anak-anak Nakal
Riza Multazam Luthfy
Riau Pos, 27 Mei 2012
ADONIS, penyair Arab kontroversial paska Perang Dunia Kedua (dalam Adonis, Arkeologi Sejarah-Pemikiran Arab-Islam, terj. Khoiron Nahdliyin, LKiS, 2012 (Edisi Khusus Komunitas), melontarkan bahwa puisi melambangkan sarana ideologis: dipakai untuk membela dan memberi kabar gembira (madh), atau mengkritik dan menyerang (hija). Continue reading “Menebar Senyum Sambil Meraung”
