Sosialisme dalam Mukadimah Lekra dan Manifes Kebudayaan

Dwi Pranoto

“Perlu diingat, Manifes Kebudayaan disusun di tahun 1963 – setelah kami melihat bahwa sosialisme dapat diperjuangkan tanpa doktrin “realisme sosialis”
(Goenawan Mohamad; wawancara dengan A. Kurnia dalam http://mediacare.blogspot.com)

Sepanjang sejarah modern Indonesia, setelah Polemik Kebudayaan tahun 1930-an, perselisihan seni paling sengit adalah pertikaian antara kubu Lekra dengan, katakanlah, kubu humanisme universil  di paruh awal 1960-an. Perdebatan yang berakhir dengan brutal pada tataran politik itu melahirkan Manifes Kebudayaan yang dinyatakan oleh kelompok humanisme universil yang sering dikaitkan dengan prinsip seni l’art pour art, meski tidak demikian adanya. Continue reading “Sosialisme dalam Mukadimah Lekra dan Manifes Kebudayaan”

Diskursus Luka, Identifikasi Subjek, dan Hasrat Lacan dalam Puisi “Luka” Karya Dwi Pranoto

Moh. Fathoni

Lacan dalam konsepsi psikoanalisanya menggunakan dua strategi: fenomenologi dan struktural. Dengan fenomenologi, ia memilih subjek yang mempunyai hasrat dan menempatkannya ketidaksadaran agar menjadikannya sebagai “subjek yang bebas”. Kedua, struktural digunakan sebagai alat untuk membahas pengukuhan diri subjek, yakni sebagai dalam identifikasi diri [subjek]. Continue reading “Diskursus Luka, Identifikasi Subjek, dan Hasrat Lacan dalam Puisi “Luka” Karya Dwi Pranoto”

Bahasa »