Dwi Pranoto
“Perlu diingat, Manifes Kebudayaan disusun di tahun 1963 – setelah kami melihat bahwa sosialisme dapat diperjuangkan tanpa doktrin “realisme sosialis”
(Goenawan Mohamad; wawancara dengan A. Kurnia dalam http://mediacare.blogspot.com)
Sepanjang sejarah modern Indonesia, setelah Polemik Kebudayaan tahun 1930-an, perselisihan seni paling sengit adalah pertikaian antara kubu Lekra dengan, katakanlah, kubu humanisme universil di paruh awal 1960-an. Perdebatan yang berakhir dengan brutal pada tataran politik itu melahirkan Manifes Kebudayaan yang dinyatakan oleh kelompok humanisme universil yang sering dikaitkan dengan prinsip seni l’art pour art, meski tidak demikian adanya. Continue reading “Sosialisme dalam Mukadimah Lekra dan Manifes Kebudayaan”

