Taufiq Wr. Hidayat *
Ada puisi yang mengusung diksi atau metafora kesepian, keperihan, dan patah hati. Ada kenangan, wajah-wajah datang, meleleh di permukaan air sungai usia, menghanyutkan sehelai hati manusia ke lautan.
Keperkasaan waktu pada dinihari ditundukkan perempuan-perempuan baya yang membawa sayur-mayur dari tempat-tempat jauh. Mereka datang bagai mengepung kota yang sedang lelap, lengah dalam senyap, bersama beban-beban, bersama kereta, hingga senja. Hingga segala lelah cuma lelucon belaka. Continue reading “KOTA KECEMASAN”
