Geliat Menulis Esai Kritik Sastra dan Eksistensi SST (Sanggar Sastra Tasik) di Tasikmalaya

D. Dudu A.R *

AJAKAN workshop menulis kritik sastra dan laporan budaya dari Jodhi Yudono (pemangku rubrik oase-kompas.com) kepada saya (Pondok Media) beberapa waktu lalu, merupakan salah satu indikasi produktivitas masyarakat Tasikmalaya–menulis essay kritik sastra–jarang geliatnya. Beliau menyatakan ingin sekali masyarakat Tasikmalaya intens menulis kritik sastra dalam rangka memasyarakatkan sastra. Continue reading “Geliat Menulis Esai Kritik Sastra dan Eksistensi SST (Sanggar Sastra Tasik) di Tasikmalaya”

Mutu Karya Sastra Sumbar 30 Tahun Terakhir

Darman Moenir

Satu,
TEMA Menyoal Kebermutuan Karya Sastra Sumatera Barat membingungkan. Apalagi, lebih khusus, judul Mutu Karya Sastra Sumatera Barat 30 Tahun Terakhir.

Adakah karya sastra Sumatera Barat? Saya lebih tertarik menyebut karya sastra Indonesia, ditulis dalam bahasa Indonesia, oleh sastrawan yang berasal dari Sumatera Barat atau Minangkabau. Sumatera Barat jadi risalah ketata-negaraan, dan Minangkabau adalah masalah etnik(al). Chairil Anwar adalah penyair besar dan penting Indonesia biarpun dia berasal dari Taeh Baruah, Payokumbuah. Begitu juga Abdoel Moeis, novelis modern sastra Indonesia, lahir di Sungai Pua, Agam. Continue reading “Mutu Karya Sastra Sumbar 30 Tahun Terakhir”

Novel Tanah Ombak Karya Abrar Yusra, dari Investigasi ke Fiksi

Sastri Sunarti *
mantagibaru.com

Abrar Yusra, Tanah Ombak, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, Cetakan Pertama, April 2002

Kita mengenal beberapa nama pengarang Indonesia yang memiliki latar belakang sebagai wartawan yang juga merangkap sebagai penulis prosa atau puisi. Misalnya, Mochtar Lubis, Harris Effendi Thahar, Veven Sp. Wardhana, dan sederet nama lainnya yang awalnya adalah seorang jurnalis kemudian menjadi novelis maupun cerpenis. Abrar Yusra, termasuk salah seorang wartawan yang kemudian juga tergoda untuk menulis karya sastra berdasarkan pengalaman kewartawanannya. Continue reading “Novel Tanah Ombak Karya Abrar Yusra, dari Investigasi ke Fiksi”

Membaca Realitas Sosial di Indonesia Melalui Sastra Diaspora

Badaruddin Amir

Terbitnya buku kumpulan Cerpen Mini Yin Hua terjemahan Wilson Tjandinegara (KSI, 1999) yang diluncurkan pada HUT KSI (Komunitas Sastra Indonesia) yang ke-3 pada 31 Oktober 1999 di TIM Jakarta, dapat dikatakan semakin memperjelas posisi kehadiran para sastrawan keturunan Tionghoa di tengah konstelasi sastra Indonesia modern saat ini. Continue reading “Membaca Realitas Sosial di Indonesia Melalui Sastra Diaspora”

Bahasa ยป