Sastrawan Indonesia Banyak Berasal dari Sumbar

Darman Djamaluddin
suprizaltanjung.wordpress.com

Tidak berlebihan kalau kita mengenal satrawan-sastrawan Indonesia banyak berasal dari Minangkabau. Penulis Minang juga banyak mempengaruhi perkembangan bahasa dan sastra Indonesia.

Hal itu ditulis Darman Djamaluddin dalam sebuah artikelnya di jurnal seni online, Kuflet, sebagai catatan singkat untuk menghantarkan pengenalan negara lain terhadap Minangkabau. Tulisan itu menyusul Padang yang bakal menjadi tuan rumah Temu Sastrawan Nusantara Melayu Raya (Numera) yang pertamakali pada tanggal 16-18 Maret mendatang. Darman sendiri, seorang sejarawan kelahiran 1955 di Jambi. Continue reading “Sastrawan Indonesia Banyak Berasal dari Sumbar”

Afrika

Mahbub Djunaidi
Tempo, 23 Maret 1985

Hakikatnya sih perbuatan mesum. Tapi karena orang Inggris bukan orang sembarangan, melainkan gentleman, maka dia lebih suka menyebutnya white’s man burden. Orang Prancis yang lebih puitis menyebutnya mission civilatrice, dan orang Jerman penyebaran kultur. Sedangkan orang Italia, yang biasanya suka hingar-bingar, kali ini tak menyuguhkan istilah apa-apa; Cuma mengumbar altruisme agresinya dengan jalan merampas Somalia, menggaet Tripoli, menginjak-injak Ethiopia dan Eritrea, serta melahap apa saja yang tampak di atas buminya. Continue reading “Afrika”

PENDIDIKAN RESPONSIF BUDAYA [Sebuah Refleksi Ringkas]

Djoko Saryono *

Sejak dahulu hingga sekarang, para pemikir, pakar, dan awam sudah menyatakan adanya hubungan simbiosis mutualisme antara pendidikan dan kebudayaan. Demikian pula para ahli (ilmu filsafat, ilmu sosial, dan ilmu kemanusiaan) dan peneliti sudah menelaah dan mengaji jalin-kelindan pendidikan dan kebudayaan. Bahkan kemudian berkembang pemikiran di lingkungan filsafat atau filsuf bahwa pendidikan merupakan proses pembudayaan di samping pemerdekaan dan pemanusiaan. Continue reading “PENDIDIKAN RESPONSIF BUDAYA [Sebuah Refleksi Ringkas]”

Sastra dan Agama Kemanusiaan

Marsel Robot *
Pos Kupang, 21 Jan 2016

Sepotong metafora liris mengiris kalbu ketika John Hick mewanti, “The lamps are different, but the light is the same (lihat Volf, 2008:8; Robot, 2015). Tetapi, Harland Develand berseru sebaliknya, “Realitas keragaman dan perbedaan budaya merupakan ‘setan baru’ dalam jagat hidup kita” (O’Dea, 1996: 427). Dan salah satu unsur keragaman yang paling emosional memunculkan konflik adalah agama. Surga dan Tuhan begitu mudah diciptakan oleh kefanaan akal manusia. Continue reading “Sastra dan Agama Kemanusiaan”

Tiga Buku Sastra Papua Diluncurkan


[Tiga buku sastra Papua masing-masing Antologi Cerpen “Aku Peluru Ketujuh” karya Teopilus B. Tebat, “Kansina Fananin,” sebuah kumpulan puisi karya Jingga Kamboja, dan “Tetesan Embun Inspirasi dari Papua” karya Aleks Giyai].
Yamoye AB
satuharapan.com 21 Mei 2017

Minimnya karya sastra Papua dinilai menjadi tantangan serius dewasa ini. Kekhawatiran muncul sering arus moderenitas yang begitu cepat sementara orang Papua masih mengidap budaya tutur. Continue reading “Tiga Buku Sastra Papua Diluncurkan”

Bahasa »