Seno Gumira Ajidarma *
Majalah Tempo, 20 Jan 2014
Ketika membaca judul cerpen Putu Wijaya yang berbunyi “Pelacur” (1980), saya sudah siap mengikuti kisah tentang perempuan yang menyewakan tubuhnya. Kesiapan itu berhubungan dengan pemahaman berdasarkan dua momentum.
Pertama, sewaktu saya masih duduk di bangku SMA Santo Thomas, Yogyakarta, pada 1976, guru bahasa Indonesia di kelas agak gelisah karena saya tanyakan asal kata “pelacur”. Continue reading “Pekerja Seks Komersial”
