Peranan Pers Dalam Pengembangan Bahasa

Ajip Rosidi *
Pikiran Rakyat, 2 Jan 2010

Peranan pers dalam pengembangan bahasa Melayu menjadi bahasa nasional Indonesia telah diakui. Para pemuda dari berbagai daerah yang menghadiri Kerapatan Pemuda pada 28 Oktober 1928 dengan gampang menerima isi Sumpah Pemuda diktum yang ketiga, yaitu ”menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”, antaranya karena pada waktu itu bahasa Melayu lingua franca (yang diganti namanya menjadi ”bahasa Indonesia”) digunakan dalam pers nasional secara luas. Continue reading “Peranan Pers Dalam Pengembangan Bahasa”

Bahasa Yatim Piatu

Agus R. Sarjono *
Majalah Tempo, 6 Juni 2011

Saat menerjemahkan karya-karya Georg Trakl, penyair superkelam dalam khazanah perpuisian Jerman, Berthold Damshäuser dan saya kerap bersitegang. Pasalnya adalah memilih kata dan ungkapan Indonesia yang tepat bagi keindahan, kegilaan, dan kekelaman Trakl. Jika dua orang muslim bersitegang tentang sesuatu, keduanya dianjurkan untuk kembali ke sumber: Quran dan Hadis. Continue reading “Bahasa Yatim Piatu”

Melestarikan yang Keramat

Sapardi Djoko Damono *
Majalah Tempo, 24 Nov 2014

Negeri ini memiliki banyak bahasa, adat-istiadat, kesenian—semuanya menjadi bagian dari kebudayaan yang bineka. “Semuanya perlu dilestarikan,” kata orang. Di samping itu, kita memiliki banyak hari besar—beberapa di antaranya mencapai taraf sebagai hari libur nasional—dan semuanya perlu dikeramatkan. Continue reading “Melestarikan yang Keramat”

Sastra dan Tanda

Alex R Nainggolan
Riau Pos, 24 Agu 2014

Perlukah sastra sebuah tanda? Perlukah sastra sebuah identitas, semacam layaknya kartu tanda penduduk, yang dilengkapi dengan jenis kelamin atau agama? Saya rasa tidak. Seperti yang pernah diungkap H.B. Jassin—berpuluh tahun lampau—bahwa sastra itu universal. Sastra itu melingkupi kemanusiaan itu sendiri, menyeluruh, tanpa perlu diberikan benteng ataupun palang yang melingkupinya. Ia bisa bertindak bodoh, kemayu, wangi, amoral, religius, dsb. Sastra dengan kekayaan kata-kata yang diberkahinya melingkupi kehidupan itu sendiri. Continue reading “Sastra dan Tanda”

Merenungkan Makna (PDIP)

Berthold Damshauser *
Majalah Tempo, 14 Jul 2014

Lapor! Sudah saatnya saya kembali melaporkan diskusi yang terjadi pada jam mata kuliah bahasa Indonesia di Universitas Bonn, Jerman.

“Pak,” tanya seorang mahasiswa, “kami sempat membaca tulisan Bapak di kolom Bahasa majalah Tempo edisi 24-30 Juni 2013, yang berjudul ‘Evolusi Bahasa dan Manusia Indonesia’. Lepas dari kenyataan bahwa tulisan sok filosofis itu tidak lebih dari sebuah laporan biasa, kami kurang memahaminya, dimulai dari judulnya.” Continue reading “Merenungkan Makna (PDIP)”

Bahasa »