Senja Kala Ruang Sastra di Media?

Ni Made Purnama Sari
Kompas, 14 Mei 2016

Sejak akhir abad ke-19, hadirnya ruang-ruang sastra di media massa cetak Indonesia telah membuka kemungkinan interaksi yang unik antara penulis dan pembaca. Hubungan keduanya bukan hanya sekadar berkreasi dan mengapresiasi, namun lebih jauh terbukti meregenerasi pengarang, yang muncul justru dari pengalaman mencermati karya-karya yang dimuat pada koran atau majalah. Kecenderungan ini pun mentradisi yang—sebagaimana kita tahu—turut membentuk pergaulan kreatif dan karakter kesusastraan di negeri ini. Continue reading “Senja Kala Ruang Sastra di Media?”

Mengenai Festival Teater SMP/MTs Se-Jawa Timur

Rodli TL

SMA Raudhatul Muta’alimin Babat Lamongan, sebuah sekolah yang berada di lingkungan pesantren. Tidak ada gelombang tsunamai atau badai pasir, tiba-tiba lembaga pendidikan tersebut mengadakan festival teater pelajar tingkat SMP/MTs se-Jawa Timur. Mimpi apa kepala sekolah dan para gurunya. Padahal Instansi Pemerintah (Dinas Pendidikan Lamongan) yang punya kewajiban saja enggan melakukannya. Jangan-jangan pengampuh kebijakan sekolah tersebut sedang sinting semua, hehehehehe. “Lapo kok susah-susah gawe acara konter-konteran.” kata salah satu nenek anggota teater Ramu, hehe… Continue reading “Mengenai Festival Teater SMP/MTs Se-Jawa Timur”

Lokalitas NTT dalam Cerpen: Ulasan Antologi Cerpen Cerita dari Selat Gonsalu

Yohanes Sehandi *

Saya bersyukur mendapat kepercayaan Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi kurator untuk buku Antologi Cerita Pendek Sastrawan NTT 2015 yang akan diluncurkan pada Temu 2 Sastrawan NTT awal Oktober 2015 di Ende, Flores. Bapak Gerson Poyk, sastrawan senior dan perintis sastra NTT juga menjadi kurator cerpen-cerpen yang akan diterbitkan dalam bentuk antologi. Sebanyak 57 judul cerpen dari 27 penulis yang diterima Kantor Bahasa Provinsi NTT untuk diseleksi oleh dua orang kurator. Continue reading “Lokalitas NTT dalam Cerpen: Ulasan Antologi Cerpen Cerita dari Selat Gonsalu”

Kambing, Hujan, dan Guyonan ala NUMU

Ria AS
ranselparaperi.blogspot.co.id

Agar tampak kekinian, akhirnya saya membeli Buku “Kambing dan Hujan” karya Mahfud Ikhwan yang baru saja memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2014 lalu. Nah, karena penasaran tentang sosok penulis yang tidak pernah saya dengar sebelumnya, maka saya membaca dulu novel pertamanya yang saya pinjam dari perpustakaan UIN Malang : “Ulid Tak Ingin Ke Malaysia”. Continue reading “Kambing, Hujan, dan Guyonan ala NUMU”

Bahasa »