Gagasan Profetik Kuntowijoyo

Rizky
aank1985.wordpress.com

Gagasan profetik Kuntowijoyo berpijak pada tiga elemen utama: humanisasi (ta’muru bil ma’ruf), liberasi (tanhawna ‘anil munkar), dan transendensi (tu’minu billah). Konsep ini berakar dari Al-Qur’an Surah Ali Imran: 110: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah”. Konsepsi Kuntowijoyo diderivasikan dari tiga elemen yang Allah sebut sebagai prasyarat umat terbaik tersebut. Continue reading “Gagasan Profetik Kuntowijoyo”

Sastra Profetik dan Tantangan Kebangkitan Manusia

Ayati Fa *
islampos.com

Barangkali kita pernah mendengar pernyataan berikut; Islam terlalu “saklek” hitam-putih. Ajaran Islam berada pada ruang “suci” yang menjadikan penulis susah berimajinasi. Pun di beberapa forum diskusi sebuah pernyataan terungkap bahwa karya sastra yang memuat (ajaran) Islam itu ‘tidak sastrawi’. Hingga sebuah pertanyaan pun menyeruak di hati saya, “Benarkah (ajaran) Islam menghambat kreativitas dalam berkarya khususnya di ranah sastra?” Continue reading “Sastra Profetik dan Tantangan Kebangkitan Manusia”

KARAKTER DAN SASTRA PROFETIK

Dharma Setyawan *
hmp.pasca.ugm.ac.id

Umar bin Khattab berpesan “Ajarilah anak-anakmu sastra, karena sastra membuat anak yang pengecut menjadi pemberani”.

Konflik dan dinamika bangsa ini terus berproses pada jalan formalnya. Harapan besar manusia-manusia di dalam Negara ini tumbuh dan berkembang dalam proses-proses yang terus membaik. Sejarah pahit negeri ini yang awalnya penuh dengan semangat kepahlawanan telah tertutupi oleh sikap nir-akhlak generasi yang semakin mengalami erosi kebaikan. Continue reading “KARAKTER DAN SASTRA PROFETIK”

Melacak Definisi Nilai Religiusitas dalam Sastra Pesantren

Sobih Adnan
nu.or.id

Lagi-lagi, saat membicarakan tentang apa dan bagaimana sastra pesantren sebenarnya?, Semuanya memang harus dikembalikan dan dibiarkan untuk berjalan dan berkembang secara dinamis, agar ruh utama dalam sastra yang bernilai kebebasan menemukan keleluasaaan di dalamnya. Namun lagi-lagi, jika berdasarkan tuntutan peta kesusasteraan dunia, sastra pesantren juga harus mampu menunjukkan terlebih lagi menjelaskan titik khas, originalitas, otentitas, sekaligus geneuinitas yang terdapat dalam dirinya sendiri. Continue reading “Melacak Definisi Nilai Religiusitas dalam Sastra Pesantren”

Sastra Profetik, Tradisi Melayu

Marhalim Zaini
riaupos.co

DUA tokoh sastra Indonesia yang agaknya identik dengan sebutan “sastra profetik” adalah Kuntowijoyo dan Abdul Hadi WM. Selain tampak dalam karya-karya mereka, sebuah tulisan Kunto berjudul “Maklumat Sastra Profetik (Kaidah, Etika, dan Struktur Sastra)” dimuat majalah Horison, 2005, bisa menguatkan itu. Sementara Abdul Hadi WM, dapat kita baca dalam “Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber” (Jurnal Kebudayaan Ulumul Quran, Agustus, 1998). Ini telaah kritis Abdul ihwal perkembangan sastra di tahun 1970-an dan 1980-an, terkait kesadaran penulis untuk menjadikan “tradisi” sebagai “sumber” proses kreatif penciptaan mereka, terutama tentang semangat untuk kembali ke “puitika Timur.” Continue reading “Sastra Profetik, Tradisi Melayu”

Bahasa »