Bila Politik Bertopeng, Sastra Menyingkapkannya

Damhuri Muhammad
Kompas, 31/08/14

Akibat sebuah kecerobohan, seorang ahli kimia molekuler mengalami kecelakaan di laboratoriumnya. Dalam sebuah eksperimen, wajahnya terbakar. Ia mengalami luka-luka keloid, hingga seluruh jaringan kulit mukanya rusak, bopeng, remuk tak berbentuk. Sejak itu, ia menjadi anonim, tak bisa dikenali lagi, terkucil, bahkan dikhianati oleh orang yang dicintainya–istrinya berselingkuh, tak bisa lagi bersetia pada suami tak bermuka. Continue reading “Bila Politik Bertopeng, Sastra Menyingkapkannya”

Sahibul Hikayat: Zaman Edan dan Polemik Kebudayaan Jawa

Herry Mardianto
sastrayogyakarta.blogspot.com

Persoalan yang selalu “mengundang perhatian”, tumbuh dan berkembang di belahan negara manapun (termasuk Indone­sia) adalah persoalan ideologi, na­sionalisme, dan kebudayaan. Ketiga persoalan itu menjadi menarik karena tidak dapat dilepaskan dari persoalan politik, dan ketiganya berada dalam dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Continue reading “Sahibul Hikayat: Zaman Edan dan Polemik Kebudayaan Jawa”

Sastra Eksil, Sastra Rantau

Saut Situmorang *

Dalam bahasa Inggris istilah “exile”, yang diindonesiakan menjadi “eksil”, memiliki tiga pengertian. Pertama, sebuah ketakhadiran, sebuah absensi yang panjang dan biasanya karena terpaksa dari tempat tinggal ataupun negeri sendiri. Kedua, pembuangan secara resmi (oleh negara) dari negeri sendiri, dan pengertian ketiga adalah seseorang yang dibuang ataupun hidup di luar tempat tinggal ataupun negerinya sendiri (perantau, ekspatriat). Istilah “exile” itu sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu “exsilium” (pembuangan) dan “exsul” (seseorang yang dibuang). Continue reading “Sastra Eksil, Sastra Rantau”

Bahasa »