Matinya Genre Sastra Kritis

Jafar Fakhrurozi
kawanmalaka.wordpress.com

Membaca tulisan saudara dosen Aprinus Salam (AS) yang berjudul Sastra dan Penafsiran Ideologis di Jawa Post, Minggu (09/11), di mana di mata AS, kajian-kajian sastra kini seakan menjauhkan diri dari kacamata ideologis. Hal itu dianggap kontraproduktif dengan realitas sosial Indonesia yang dilanda berbagai krisis. Continue reading “Matinya Genre Sastra Kritis”

Kritik Sastra Sampul Belakang

Veven Sp Wardhana
Kompas, 27 Jan 2013

Tidak jelas, atau setidaknya saya tak punya catatan, sejak kapan buku sastra—prosa ataupun puisi—menyertakan beberapa komentar dari orang-orang yang dianggap bisa mengatrol isi buku tersebut.

Komentar yang biasa dimuat di halaman sampul belakang tersebut dikenal dengan sebutan endorsement (dukungan; endorse: mengesahkan) atau blurp (entah apa artinya dalam bahasa Indonesia). Yang paling saya ingat, cetakan kedua novel Burung-burung Manyar (1981) karya YB Mangunwijaya menyertakan komentar Subagio Sastrowardoyo, Th Rahayu Prihatmi, Satyagraha Hoerip, dan entah siapa lagi. Continue reading “Kritik Sastra Sampul Belakang”

Faruk HT: Sastra Bukan Tempat Sunyi Lagi

Wawancara bersama Faruk H.T.
Sariful Lazi
sarifulpenyair.blogspot.com

Sastra Islami dalam beberapa tahun belakang ini sedang laku keras. Apakah fenomena sastra islami akan mengukuhkan genre yang kuat dalam dunia sastra Indonesia atau sekadar tren?

Dr. Faruk, S.U., kritikus Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM) menilai sastra islami sebagai karya populer. Yang disebut sastra populer di Indonesia, kata Faruk, agak mungkin menjadi sastra islami. Islam itu pasar. Ini bagian dari proses besar komoditifikasi agama. Continue reading “Faruk HT: Sastra Bukan Tempat Sunyi Lagi”

Melawan Virus Akal Budi

Chaidir
riaupos.co 15 Juli 2014

SUATU ketika penyair Kahlil Gibran menulis sebuah cerita perumpamaan tentang kebaikan dan keburukan. Kedua makhluk ini, tulis Kalil Gibran – kebaikan dan keburukan – bertemu di tepi pantai, lantas keduanya sepakat mandi bersama. Keduanya menanggalkan pakaian dan berenang bersukaria. Continue reading “Melawan Virus Akal Budi”

Bahasa »