Sebuah Kemungkinan bagi Sastra Asia Tenggara

Damhuri Muhammad
Kompas, 30 Maret 2014

Harapan untuk menjadi bagian dari sastra dunia, sejak beberapa tahun belakangan, beralih-rupa menjadi keresahan dalam ranah sastra Indonesia. Banyak sastrawan mengeluh lantaran sulitnya akses untuk penerjemahan karya-karya mereka ke dalam bahasa asing. Organisasi penerbit lebih tampak berperan sebagi EO (event organizer) pameran buku ketimbang merancang program-program yang terukur, guna mengantarkan sastra Indonesia ke gerbang sastra dunia. Continue reading “Sebuah Kemungkinan bagi Sastra Asia Tenggara”

Memperkenalkan Sastra Asia Tenggara ke Pentas Dunia

Iffah Nur Arifah
radioaustralia.net.au 24 March 2014

Karya Sastra di Asia Tenggara berkembang pesat dan mampu menghasilkan karya berkelas dunia. Namun karya-karya tersebut belum banyak dikenal. Penyelenggaraan ASEAN Literary Festival (Festival Sastra ASEAN) mendorong kesadaran perlunya usaha bersama untuk mempromosikan karya-karya ini ke dunia internasional. Continue reading “Memperkenalkan Sastra Asia Tenggara ke Pentas Dunia”

JURNALISME, SASTRA, DAN SEJARAH

Kris Tina
debumalam.wordpress.com

“Maka, pada prinsipnya, sebagai penulis fiksi saya tidak bermaksud menulis fakta-fakta tentang fiksi saya sendiri untuk memperkuat fiksi tersebut, meski sebagai orang yang mencari nafkah dengan menggauli fakta-fakta, saya diwajibkan mencatat segala hal dengan terperinci, termasuk tentang fiksi __ apalagi jika itu merupakan permintaan.” (Seno Gumira Ajidarma dalam Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara; 2005) Continue reading “JURNALISME, SASTRA, DAN SEJARAH”

Bagaimana Situasi Perang Sastra di Indonesia? *

Viddy AD Daery **

Perang sastera yang terjadi dan semakin membesar akhir-akhir ini di Indonesia, menurut hemat saya, sangat berbeza dengan beberapa kali perang sastera yang pernah terjadi di Indonesia.

Bahkan sebelum Republik Indonesia berwujud, perang sastera telah dilancarkan oleh Lembaga Balai Pustaka yang dikendalikan pemerintahan kolonialisme Hindia Belanda, yakni, pada tahun 1920-an melancarkan perang terhadap “bacaan Liar” yakni buku-buku Melayu-Tionghoa yang ditulis oleh orang-orang Tionghoa dengan menggunakan bahasa Melayu yang kacau-balau, atau disebut “Melayu pasar” atau “Melayu Rendah”. Continue reading “Bagaimana Situasi Perang Sastra di Indonesia? *”

Linus Suryadi Sebagai Korban Kultur Jawa

F. Rahardi *

Penyair Linus Suryadi AG (3 Maret 1951- 30 Juli 1999) dalam karya maupun hidup sehari-hari adalah khas stereotip Jawa. Senang perkutut, punya banyak keris tapi takut berkelahi apalagi membunuh. Doyan tongseng kambing meskipun darahnya tinggi dan selalu nrimo. Kepenyairannya dimulai dari tahun 1971. Saat itu Yogya sedang diperintah oleh “Presiden Malioboro” Umbu Landu Paranggi. Continue reading “Linus Suryadi Sebagai Korban Kultur Jawa”

Bahasa »