Ulang Tahun ke-91: Balai Pustaka Dibiarkan Merana

Yurnaldi
Kompas, 22 Sep 2008

SAMA-SAMA penerbit, tetapi beda nasib. Begitulah kalau diambil perbandingan antara Mizan dengan Balai Pustaka atau BP, yang kebetulan hari ulang tahunnya berselang dua hari. Sabtu (20/9) malam, di Jakarta, Mizan merayakan ulang tahunnya yang ke-25 dengan dihadiri banyak tokoh. Sejumlah kelompok usaha Mizan dilaporkan tumbuh-berkembang dengan pesat. Continue reading “Ulang Tahun ke-91: Balai Pustaka Dibiarkan Merana”

Boesa (Menanggapi Bandung Mawardi)

Hikmat Gumelar*
Pikiran Rakyat, 6 Sep 2008
terkait: http://sastra-indonesia.com/2011/03/godaan-puisi-dalam-politik/

SAYA tergoda oleh “Godaan Puisi Dalam Politik”, tulisan Bandung Mawardi yang terbit di Khazanah (23/8). Di situ Mawardi mengucap, “Politik Indonesia menjadi ramai dan imajinatif dengan puisi. Pemakaian bahasa dengan bentuk puisi bisa melawan (menandingi) kodifikasi bahasa politik Indonesia yang selama ini cenderung kaku, formal, dan prosais. Politik menjadi pelangi dan reflektif karena puisi memberi hak untuk sekian interpretasi dengan tegangan teks dan realitas.” Continue reading “Boesa (Menanggapi Bandung Mawardi)”

Tradisi Intelektual dan Kegairahan Penerbitan Buku

Fakhrunnas MA Jabbar *
Kompas, 14 Sep 2008

TRADISI intelektual di Riau sudah diawali sejak masa kejayaan Kerajaan Melayu Riau-Lingga dan Riau-Johor sekitar abad ke-19. Di masa itu, tumbuh subur aktivitas dan wacana intelektual yang diperankan oleh sejumlah pemikir dan petinggi kerajaan. Sebutlah nama-nama yang telah menghasilkan sejumlah karya berupa naskah dan teks yang abadi hingga kini, seperti Raja Ali Haji, Abu Muhammad Adnan, dan Raja Aisyah. Continue reading “Tradisi Intelektual dan Kegairahan Penerbitan Buku”

Sejarah Kota: Menanti Senyum Ratu dari Timur…

M Hilmi Faiq, Runik Sri Astuti, M Burhanudin
Kompas, 16 Sep 2008

UPAYA menghidupkan kembali kawasan Kota Tua di Jakarta Utara telah dimulai 40 tahun silam. Akan tetapi, kondisi kawasan seluas 649 hektar yang membentang dari Pelabuhan Sunda Kelapa, Kampung Luarbatang di utara, dan Jalan Petakbaru dan Jembatanbatu di selatan itu hingga kini masih karut-marut.

Sebagian besar bangunan tampak kumuh tak terurus. Warisan sosial budayanya pun nyaris tenggelam. Continue reading “Sejarah Kota: Menanti Senyum Ratu dari Timur…”

Bahasa »