Pring Re-ke-teg Gunung Gamping Ambrol

Seno Gumira Ajidarma

Ribuan orang baik-baik telah berkumpul di atas bukit, siap menyerbu perkampungan para pencuri, perampok, pembunuh, dan pelacur, yang terletak di tepi sebuah sungai yang mengalir dan berkelok dengan tenang, begitu tenang, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih tenang, yang memantulkan cahaya kemerah-merahan membara di langit meskipun matahari sudah terbenam. Continue reading “Pring Re-ke-teg Gunung Gamping Ambrol”

FACEBOOK, MEDIUM INTERAKSI KULTURAL DAN PEMPUBLIKASIAN PUISI

Sri Wintala Achmad
__Mingguan ‘Minggu Pagi’

Tertarik pada persepsi salah seorang kawan tentang produk teknologi internet yang belakangan ini semakin banyak penggunanya. Baginya, arah kegunaan internet sangat tergantung pada penggunanya. Bagi pengguna bermoral jahat, internet cenderung dimanfaatkan untuk memenuhi tujuan kejahatannya, semisal: penyebaran virus, pemasangan situs porno, penyebaran informasi tentang ajaran beraliran sesat yang sangat bertentangan dengan ajaran dari berbagai agama syah di Indonesia. Continue reading “FACEBOOK, MEDIUM INTERAKSI KULTURAL DAN PEMPUBLIKASIAN PUISI”

Cerpen KR (Kedaulatan Rakyat) Minggu; Memotret Anomalia dan Melankolia Zaman

Dr Suwardi Endraswara
http://www.kr.co.id/

Kalau saya baca cerpen di Kedaulatan Rakyat Minggu (KRM), dari Januari-Agustus 2011, ada dua percikan erosi zaman. Pertama, anomalia zaman, adalah ketika cerpenis sedang gelisah memotret keganjilan suasana. Sebut saja, sudah jadi pejabat tinggi kok korup, hobi masuk penjara, itulah lensa zaman ganjil. Paradoksal. Kedua, melankolia zaman, terjadi ketika cerpenis ingin menyikapi suasana egois, sensitif dan reaksioner. Dua zaman itu terus melilit bangsa ini, hingga lahir cerpen sebagai lisan zaman rewel, sebab adanya inkonsistensi antara perkataan dan perbuatan. Continue reading “Cerpen KR (Kedaulatan Rakyat) Minggu; Memotret Anomalia dan Melankolia Zaman”

Memasak Nasi dengan Doa dan Asap Dupa

Emha Ainun Nadjib
Harian SURYA, 28 Des 1992

Ayah saya panik melihat gejala saya akan menjadi mahasiswa abadi. Maka ia mengajak saya ke orang tua, semacam dukun…,” tulis seorang gadis manis asal Ngawi, mahasiswa Sastra Inggris yang tampak sebel dengan banyak hal di keluarga juga di lingkungannya.

Mungkin saya sendiri yang bersalah. Hati saya terlalu menampung siapa saja. Antara lain yang berhubungan dengan perdukunan dan lain sebagainya, yang kemudian pernah saya tuliskan di media massa dengan judul Kasekten dan Kagunan. Continue reading “Memasak Nasi dengan Doa dan Asap Dupa”

Bahasa ยป