Menjenguk Marx di Britania

Andari Karina Anom
http://majalah.tempointeraktif.com/

PEKUBURAN Highgate bukanlah tujuan utama mayoritas turis di London, Inggris. Orang lebih suka menengok Istana Buckingham atau lonceng Big Ben, yang jadi ikon wisata negeri itu. Tapi Sigit Susanto bukan kelompok kebanyakan itu. Dia lebih suka menepi ke kawasan pemakaman sepi: di situlah jazad Karl Marx dikebumikan.

Tak cukup berziarah ke makam, Sigit juga meniti jejak tokoh komunis itu di London. Saat berkunjung ke British Museum, ia tak hendak mengisahkan koleksi-koleksi museum yang dahsyat, tapi mengunjungi Reading Room. Di ruangan inilah, pada periode 1860-1867, Marx hampir setiap hari duduk berjam-jam menyelesaikan Das Kapital (hlm. 325-340). Continue reading “Menjenguk Marx di Britania”

Requiem untuk Aceh

Idrus F. Shahab, Mustafa Ismail, Yuswardi A. Suud, Nurdin Kalim, F. Dewi Ria Utari
majalah.tempointeraktif.com

Allah hai do do da idi/ Boh gadong biye boh kaye uteun/ Rayeuk si nyak hana peu ma bri/ Aib ngon keji ureung donya keun. (lirik Do do da idi)

Suara perempuan itu seperti semilir angin: bertiup perlahan, hilang perlahan. Di layar kaca, tubuh-tubuh bocah berjajar rapi, mata dan rahangnya terkatup. Tubuh-tubuh kecil yang tak lagi bergerak, beku, tapi suara Cut Aja Rizka Syarfiza, personel kelompok Nyawoung, mendendangkan sebuah lullaby, satu dendang pengantar tidur, Do do da idi. Kita tahu, Do do daidi bukan lagu sedih. Nada-nadanya bergerak lambat dalam skala mayor, tapi pesannya mendalam: jangan pernah takut pada kematian, jika itu merupakan pengorbanan untuk tanah air. Continue reading “Requiem untuk Aceh”

Sastra Belum Membudaya di Masyarakat Pegunungan

Khalid Yogi
http://www.suaramerdeka.com/

Selama ini, seni sastra banyak didominasi oleh karya dari wilayah kota atau setidaknya pesisir pantai. Karya-karya yang muncul dari sastrawan pedesaan pun juga bermunculan menghiasi dunia kata-kata ini. Namun, meriahnya dunia sastra belakangan ini tampaknya kurang menyentuh kreativitas masyarakat pegunungan untuk menghasilkan karya tersendiri. Continue reading “Sastra Belum Membudaya di Masyarakat Pegunungan”

Pendidikan Berbasis Kreativitas

Ika Feni Setiyaningrum
suarakarya-online.com

Saat ini pendidikan di Indonesia lebih ditekankan pada penguasaan konsep dan materi. Memang, ini bukan hal yang salah. Namun, kegiatan berbasis aplikasi atau praktik juga harus diperhatikan keberadaannya. Saat ini, siswa, terutama yang berada di jenjang SD-SMP-SMA, lebih dituntut berada dalam kelas. Mereka mendengarkan guru berbicara dan memutar slide power point (bagi kelas berbasis ICT) yang membuat mereka bosan. Kemudian setelah guru selesai menerangkan, mereka diberi kesempatan untuk menjawab. Continue reading “Pendidikan Berbasis Kreativitas”

Novel “Bintang Anak Tuhan”

Sebuah nukilan wajah Human Agony
Prof. Dr. E. Hayatullah Al Rasyid
http://oase.kompas.com/

Benar, tak banyak potret realitas keterisoliran suatu komunitas ?sakit? dan nyaris benar-benar tersingkir dan disingkirkan nilai-nilai kemanusiaannya. Jika pun ada justru malah melahirkan semacam disintegritas sosial yang sangat tajam, termasuk ?cap busuk?, pelcuran dan pergaulan bebas ? kemudian berujung pada sikap jijik dan momok moral serta kesehatan. Continue reading “Novel “Bintang Anak Tuhan””

Bahasa ยป