Metafora, Sebuah Tanda Bayangan Selembar Nyawa

IBM. Dharma Palguna
balipost.co.id

SAYA tidak tahu sudah berapa jumlah orang yang mati hanyut di sungai Ho. Babad tidak bertutur tentang korban seperti itu. Karena Babad adalah tempat orang bertutur tentang para pelaku kebesaran dan keluhuran sejarah mereka.

Bukan salah Babad, bukan pula salah orang yang mati hanyut di sungai Ho. Karena bahkan pada zaman sekarang pun tidak ada orang atau lembaga yang menyempatkan diri untuk menghitung-hitung jumlah pelaku penyeberangan yang kemudian menjadi korban oleh deras arus sungai di musim penghujan. Continue reading “Metafora, Sebuah Tanda Bayangan Selembar Nyawa”

Warisan Budaya dalam Film Holiwood

Yudi Winanto
http://www.balipost.co.id/

APA yang ada dibenak penjelajah Belanda Abel Tasman atau pun James Cook (Inggris) saat menemukan negeri berjuluk Tanah Awan Putih yang Panjang itu di pertengahan abad 16 dan 17? Seperti dunia yang hilang, Selandia Baru adalah negeri dengan alam yang masih perawan dan hal itu bertahan hingga sekarang.

JIKA kemudian sutradara Peter Jackson menggunakan negeri ini sebagai background trilogi the Lord of the Rings, hal tersebut tak keliru. Film yang diangkat dari novel karya J.R.R Tolkien itu, memerlukan lokasi yang mewakili wilayah Middle-earth, sebuah negeri fantasi dengan alam yang masih asli. Continue reading “Warisan Budaya dalam Film Holiwood”

Perjuangan Seorang Perempuan

Mustafa Ismail
http://www.korantempo.com/

Cerita menjadi eksotik karena berlangsung di dunia pesantren.

Ini persoalan perempuan. Perempuan Berkalung Sorban bercerita tentang Annisa (Revalina S. Temat) yang berjuang untuk keluar dari “ketertutupan” pesantren, tempat ia dilahirkan. Annisa adalah anak Kiai Hanan (Joshua Pandelaky), pimpinan Pesantren Salafiah putri Al Huda, Jawa Timur, yang konservatif.

Kiai Hanan berprinsip: perempuan tidak berhak menjadi pemimpin. Maka, ketika Annisa kecil terpilih sebagai ketua kelas di pesantren itu, pengajarnya lebih memilih menunjuk anak laki-laki yang mendapat perolehan suara di urutan kedua. Begitu pula ketika Annisa ingin melanjutkan kuliah di Yogyakarta, sang ayah juga melarang. Continue reading “Perjuangan Seorang Perempuan”

Ratna Indraswari Ibrahim, Menantang Keterbatasan Lewat Karya

Adeste Adipriyanti
http://www.mediaindonesia.com/

RATNA Indaswari Ibrahim adalah seorang sastrawan produktif yang telah menelurkan sepuluh buku dan sekitar 400 cerpen. Apa yang membuatnya istimewa? Karya-karyanya lahir dalam sebuah keterbatasan. Ratna kecil harus menerima kenyataan bahwa penyakit rachitis menyerang tubuhnya. Saat itu usianya baru sepuluh tahun, ia kemudian lumpuh. Tak bisa lagi menggerakkan tangan dan kakinya yang mengecil. Bahkan ia tidak bisa mengetik karya-karyanya sendiri. Hidupnya harus bersandar pada bantuan orang lain dan kursi roda. Namun semangatnya membaja dan daya juangnya tidak memberi ruang untuk menyerah. Continue reading “Ratna Indraswari Ibrahim, Menantang Keterbatasan Lewat Karya”

Ana Maria Matute, Penulis Terbaik Spanyol Pasca Perang Sipil

Yulia Permata Sari
mediaindonesia.com

DI usianya yang senja, novelis Spanyol Ana Maria Matute berhasil memenangkan Cervantes Prize, sebuah kehormatan sastra tertinggi di dunia untuk karya berbahasa Spanyol, belum lama ini. Penulis berusia 85 tahun itu, dianggap sebagai salah satu penulis terbaik Spanyol pasca-Perang Sipil, dengan karya-karya yang sering berpusat pada konflik.

Matute adalah perempuan ketiga yang berhasil menyabet penghargaan itu sejak diciptakan pada 1974. Maria Zambrano asal Spanyol dahulu menerima penghargaan itu pada 1988, disusul oleh penulis Kuba Dulce Maria Loynaz pada 1992. Continue reading “Ana Maria Matute, Penulis Terbaik Spanyol Pasca Perang Sipil”

Bahasa ยป