Penyair Inggris Harvey Ramaikan Wimbledon Tahun Ini

Bagus Wijanarko
http://www.tempointeraktif.com/

Jika performa Roger Federer di Wimbledon bukanlah sebuah puisi, hal itu akan terjadi tahun ini. Penyelenggara turnamen akbar tenis The All England menyatakan telah menunjuk ?penyair kejuaraan? untuk menulis sebuah sajak tiap hari untuk menyimpukan pertandingan yang telah berlangsung pada hari itu dan menyemarakkan atmosfir di ajang grand slam tersebut. Continue reading “Penyair Inggris Harvey Ramaikan Wimbledon Tahun Ini”

Gus Mus Malas Bergaul dengan Manusia

Ami Herman
http://www.suarakarya-online.com/

Adalah pengasuh Pesantren Raudlotuth Thalibin, Rembang, Jawa Tengah, KHA Mustofa Bisri (Gus Mus), yang mengaku tak suka bergaul dengan manusia.

Ada apa? “Bergaul dengan Allah itu lebih enak dan lebih nikmat karena Allah memiliki lembaga pengampunan banyak sekali, seperti shalat, zakat, dan puasa,” katanya seperti dikutip Antara, pekan lalu. Continue reading “Gus Mus Malas Bergaul dengan Manusia”

Sastra untuk Pemberdayaan Perempuan

Muhajir Arrosyid SPd
http://suaramerdeka.com/

KARYA sastra di Indonesia sampai sekarang tidak memberi tempat atau bahkan mungkin melecehkan kaum perempuan. Itu bisa terjadi, karena pengarang karya sastra masih didominasi kaum laki-laki. Dengan kelelaki-lakiannya itu, dia punya semacam cara berpikir yang masih condong kepada kaumnya. Bisa saja karena pengarang perempuan belum berani memberontak terhadap rongrongan sastrawan laki-laki. Dengan demikian, sastra juga memperkosa keperempuanan. Continue reading “Sastra untuk Pemberdayaan Perempuan”

Ketika Rieke Diah Pitaloka Berpuisi

Benny Benke
suaramerdeka.com

RIEKE Diah Pitaloka, perempuan supel yang mengawali karier sebagai artis sinetron, tampaknya semakin serius menggeluti dunia sastra, terutama puisi. Baru-baru ini (20/5), perempuan yang juga sedang tekun berteater itu (kali terakhir ia bermain dalam Ekstrem dan Cairan Perempuan) meluncurkan kumpulam puisi bertajuk Renungan Kloset, dari Cengkeh sampai Utrecht. Antologi puisi itu, berisi 40 puisi bertema kritik sosial, cinta, religiusitas, dan semangat pembelaan terhadap kaum perempuan. Continue reading “Ketika Rieke Diah Pitaloka Berpuisi”

Penyengat, Menjadi Pusat Pertumbuhan Sastra Melayu

Agus Sunarto
suarakarya-online.com

Pada awal abad ke-19 kesenian dan budaya Melayu berkembang pesat di Pulau Penyengat, daratan kaya bauksit seluas 240 hektare yang terletak di seberang di bagian Barat Pulau Bintan, Riau.

Ketika itu kegiatan tulis menulis dipandang sebagai pekerjaan mulia yang bisa dilakukan oleh siapa saja sehingga sastra Melayu berkembang pesat dan buku-buku banyak diterbitkan. Continue reading “Penyengat, Menjadi Pusat Pertumbuhan Sastra Melayu”

Bahasa ยป