Dongeng-dongeng Perempuan di Dunia Ketiga

Neneng Nurjanah
http://www.infoanda.com/Republika

Berbicara tentang nasib perempuan di dunia ketiga, ingatan kita akan terbawa pada beberapa novel Nawal El Sadawi, seorang sastrawan Mesir yang memotret nasib buram kaum perempuan di tanah airnya. Ingatan sayapun terbidik pada karya-karya Arundhati Roy, seorang sastrawan India pemenang Booker Prize 1997. Tak berbeda, diapun berujar tentang nasib perempuan dan rakyat miskin di tanah airnya. Dalam esai The Cost of Living dengan apik dia menulis tentang pembangunan waduk Narmada yang menelan ratusan ribu warga India. Continue reading “Dongeng-dongeng Perempuan di Dunia Ketiga”

Mengurai Teror Mental Putu Wijaya

Kurniawan, Ahmad Rafiq
majalah.tempointeraktif.com

PENELITI teater dari dalam dan luar negeri yang hadir dalam Mimbar Teater Indonesia di Surakarta pekan lalu umumnya sependapat bahwa drama Putu Wijaya khas dan orisinal. Menurut Michael Bodden, profesor di University of Victoria, British Columbia, Kanada, belum ada penulis naskah lain yang memiliki gaya sama atau sekadar mirip dengannya. Continue reading “Mengurai Teror Mental Putu Wijaya”

Sardono W. Kusumo: Membumikan Kembali Tari Tradisi

Sal Murgiyanto
http://majalah.tempointeraktif.com/

Pada suatu hari di bulan Mei. France Soir, salah satu harian terkemuka di Prancis, menulis sukses dua orang pemuda Jawa. Penari Sentot dan Sardono, yang sedang berada di Paris, setengah tidak percaya membaca ocehan kritikus Jacqueline Cartier, yang tampak tidak dapat menahan dirinya untuk memuji. Hanya sesudah harian terpercaya yang bernama Le Monde dan kemudian disusul oleh harian Le Figaro meniup balon yang sama, berita itu menjadi kukuh dan merasuk menjadi semacam kebanggaan nasional”
(“Pembaharuan Tanpa Konfrontasi”, laporan utama Tempo, 23 Februari 1974) Continue reading “Sardono W. Kusumo: Membumikan Kembali Tari Tradisi”

Para Perempuan Perkasa

Y. Thendra BP
http://langit-puisi.blogspot.com/

Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka
mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa
akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
mereka : cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa

(Perempuan-perempuan Perkasa, Hartoyo Andangjaya) Continue reading “Para Perempuan Perkasa”

Bahasa ยป