HARI JADI JOMBANG, RIWAYATMU KINI

Dian Sukarno *

Belum satu bulan saya melakukan penelitian lanjutan atas karya tulis Melacak Jejak Mataram Kuna di Bumi Jombang, naskah ini sempat menduduki peringkat keempat dari enam besar pada ajang lomba penulisan tokoh dan peristiwa sejarah di Jawa Timur tahun 2008. Untuk tujuan itu saya menyempatkan sowan kepada pejabat kecamatan Tembelang, karena obyek penelitian saya di antaranya berada di kecamatan Tembelang. Karena Pak Camat sedang repot akhirnya diarahkan ke Pak Sekcam (Sekretaris Kecamatan) Siswanto. Continue reading “HARI JADI JOMBANG, RIWAYATMU KINI”

Jejak Asketisme Intelektual

Bandung Mawardi *
http://www.korantempo.com/

Sejarah intelektual kerap diperkarakan dalam ranah kekuasaan. Wacana pengetahuan dan kekuasaan telah menjadi dominasi dalam pembentukan Indonesia dan konstruksi identitas intelektual. Pembacaan dan penafsiran intelektual dalam ranah kultural dan spiritual masih jarang diungkapkan dengan pelbagai alasan. Kondisi ini mungkin jadi dalil untuk Sartono Kartodirdjo (1921-2007) mengeluarkan risalah Asketisme Intelektual (1999). Risalah pendek ini menjadi tanda tanya dan tanda seru untuk publik memikirkan ulang identitas dan peran intelektual di negeri ini. Continue reading “Jejak Asketisme Intelektual”

Sebuah Memorabilia untuk Yogya

Surjorimba Suroto
http://www.ruangbaca.com/

Didedikasikan kepada para korban dan relawan gempa Yogya, 27 Mei 2006.

Setahun berlalu dan bencana yang melanda masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya tetap membekas. Kenangan akan mereka yang telah tiada senantiasa mengisi hari-hari mereka yang selamat. Langit yang serasa runtuh kerap menghantui dalam mimpi. Luka ini sulit hilang begitu saja. Namun manusia harus tetap mengingat dan berserah diri pada kekuasaan Tuhan Yang Maha Agung. Kehidupan harus terus berlanjut. Apa yang telah terjadi hendaklah membuat manusia ingat tak ada yang abadi di dunia ini. Continue reading “Sebuah Memorabilia untuk Yogya”

Imitasi

Feby Indirani *
ruangbaca.com

“Banyak orang gagal menjadi pemikir orisinil semata-mata karena ingatan mereka terlampau kuat” (Friedrich Nietzsche).

Nietzsche memang sudah mati. Tapi perkataannya di atas selalu membuat saya cemas. Kecuali untuk urusan menghafal jalan, ingatan saya lumayan kuat nyaris menyamai gajah. Saya was-was. Jangan-jangan orang seperti saya akan sulit melahirkan gagasan orisinil. Continue reading “Imitasi”

Bahasa ยป