Ramayana di Kuil Bachoos

Bre Redana
kompas.com

BAALBEK. Tak ada kota seindah dan seegnimatik Baalbek di Lebanon, sekitar dua jam dari ibukota negeri itu, Beirut, menuju arah Suriah. Di Baalbek yang artinya “Kota Matahari” inilah perkembangan peradaban yang dari waktu ke waktu bukan saja diwarnai pergulatan kekuasaan tetapi juga pergulatan manusia dengan ruang atau space seperti mendapat perhatian khusus para penggagas post-modernism, menemukan bukti dan jejaknya yang kuat. Continue reading “Ramayana di Kuil Bachoos”

Gus Mus: Semua Penyair Guruku

Ami Herman
http://www.suarakarya-online.com/

Kiai yang juga dikenal sebagai budayawan, pelukis, dan penyair, KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, mengaku terus terang bahwa semua penyair yang ada di negeri ini, terutama sekali penyair yang usianya di atasnya, adalah teman sekaligus gurunya.

“Saya menganggapnya demikian karena dalam banyak kesempatan, saya tidak sekadar curhat dengan mereka, tetapi juga belajar, terutama dalam proses kreatif kepenyairan. Continue reading “Gus Mus: Semua Penyair Guruku”

Inspirat Al-Nafis

Hasan Aspahani
batampos.co.id

AKA baginda pun menyuruh Punggawa Bakak menebas Pulau Penyengat Indera Sakti itu cucikan kerana Punggawa itu dia duduk di Penyengat ada empat lima buah rumah. Maka apabila sudah cuci Pulau Penyengat itu ditebas. Maka baginda pun membuat istana dengan kota paritnya dengan masjid balairungnya. Adalah yang memerintahkan segala pekerjaan itu Encik Kaluk bin Encik Suluh peranakan Bugis. Maka tiada berapa antaranya selesailah pekerjaan itu. Maka apabila selesai Pulau Penyengat itu jadi negeri tempat kerajaan maka baginda pun memindahkan paduka adinda Engku Puteri yaitu Raja Hamidah isterinya, ke istana Pulau Penyengat dengan orang baiknya dan anak raja seratanya. Continue reading “Inspirat Al-Nafis”

Doa dan Solidaritas untuk WS Rendra

Arief Junianto, Ary Nugraheni
http://www.surabayapost.co.id/

Layar hitam dibentang menutupi enam meter selasar Galery Surabaya di Jl. Yos Sudarso, Selasa tadi malam (14/7).
Enam gong besar digantung dengan tali dan kawat. Dua buah lampu besar dihadapkan kepanggung untuk penerangan.

Sound system 500 watt dan satu mikrofon diletakkan persis di tengah panggung setinggi satu meter. Puluhan tikar panjang digelar di pelataran beraspal. Continue reading “Doa dan Solidaritas untuk WS Rendra”

Almarhum WS Rendra, Sosok dengan Berbagai Wajah (2-Habis)

Dicky, Rahmat Hidayat
http://www.surya.co.id/

KISAH nostalgia lain yang menarik diungkapkan Kamto, cerpenis yang sudah bertahun tahun akrab dengan WS Rendra. Mereka sudah akrab sejak muda. Kamto menyapa sahabatnya itu dengan sebutan Willy. Pada malam sebelum sahabatnya itu meninggal, ia mengaku sempat ke luar rumah, dan melihat malam diterangi bulan purnama.

Kamto mengaku teringat masa lalu, ketika dia masih berusia 25 tahun, dan Willy berusia 20 tahun. Turut budayawan Ajip Rosidi yang bergabung, dan mereka berdiri di depan kantor pos di Pasar Baru, Jakarta. Continue reading “Almarhum WS Rendra, Sosok dengan Berbagai Wajah (2-Habis)”

Bahasa ยป