Bidadari Pasar

Sabrank Suparno

Kau bukan bidadari surga. Maka tubuhmu dilempar ke pintu pasar. Tugasmu hanyalah menolong pembelanja kesasar, bingung di tengah jubel dan hiruk pikuk pedagang, atau ibu ibu yang hendak membeli daging sapi. Daging yang dibantai para jagal malam hari, sebelum paginya dijajahkan di lapak lapak pedagang.* Continue reading “Bidadari Pasar”

Menawar Kematian

Dian DJ
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Jamin masih dipenuhi ragu berdiri di depan sebuah rumah kecil berdinding kayu jati tua. Dia masih sangsi untuk masuk rumah yang kata orang banyak adalah rumah Mbah Jan, seorang dukun sakti. Rumah itu terletak di tengah huntan belantra yang jauh dari pemukiman penduduk. Harus menempuh bukit terjal dan sungai yang cukup panjang untuk mencapainya. Continue reading “Menawar Kematian”

Buka Puasa Pertama

Sutan Iwan Soekri Munaf
sinarharapan.co.id

Bi Iyem membaca catatannya. Tertulis di sana, kolang-kaling 1 kg, pisang kapok kuning satu sisir cukup besar, gula jawa 1 kg dan beberapa catatan lainnya. Dia ingat sekali pesan Nyonya Besar, bahwa hari ini pertama puasa.

“Kita harus siapkan bukaan. Tuan Besar dan Tuan Roni suka sekali berbuka puasa menyantap kolak. Bayangkan, Tuan Besar pulang dari kantor, langsung menunggu waktu berbuka bersama Tuan Roni, sambil menghirup aroma kolak. Hmmm. Jadi kita harus sediakan kolak yang enak,” terngiang kembali pesan Nyonya Besar. Continue reading “Buka Puasa Pertama”

M i m p i

Sutan Iwan Soekri Munaf
suarakarya-online.com

Selepas shalat Isya, dan dilanjutlkan terawih. Iwan mengikuti ritual ini. Saat ustad Bahrum menyampaikan khotbahnya tentang manusia yang selalu berbuat dosa akan menjadi arang bagi api neraka, roma Iwan pun tegak seketika. Ada kemirisan di wajahnya.

Terbayang oleh Iwan, betapa sebagian besar perjalanan hidupnya dilamun dosa. Baik dosa yang bermula dari gagasannya maupun dosa yang terpaksa diikutinya, karena ketiadaan sikap Iwan untuk menentang perbuatan itu. Continue reading “M i m p i”

Masjid Babakan

Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/

EYANG BABAKAN menjauhi pusat kekuasaan kadaleman ketika ambisi ingin jadi si penguasa yang direstui Belanda berubah menjadi keculasan Dajjal-dengan bersengaja memfitnah saudara. “Tak ada yang abadi selain yang dipersiapkan untuk melakoni alam keabadian,” katanya-meninggalkan hak jadi dalem, meninggalkan kadelaman, serta jadi pendakwah di udik. Mengembara di sepanjang pesisir selatan sambil setengah melarikan diri dari tuduhan orang yang berniat menentang kuasa Belanda. Sampai fitnah itu dicabut Belanda karena dalem penggantinya terbukti menyengsarakan-rakyat berontak tak tahan beban pajak berlebih. Continue reading “Masjid Babakan”

Bahasa ยป