Kang Suto

Sabpri Piliang
http://www.suarakarya-online.com/

Desa di kaki gunung itu memang subur. Petaninya hidup makmur. Hampir setiap rumah petani punya televisi, kulkas dan VCD player. Padahal, beberapa desa di sekitarnya tergolong desa miskin. Akses menuju desa ini pun relatif sulit dijangkau. Maklum jalannya masih berupa tanah dan becek jika diguyur hujan turun. Continue reading “Kang Suto”

Cincin dari Kota

Ganda Pekasih
http://www.lampungpost.com/

Sudah lama Boma ingin pulang ke kampungnya di Tanjungsari, tapi cincin yang asli belum terbeli, senyum emaknya ketika menerima cincin imitasi itu masih terbayang-bayang, terpancar hangat lewat binar mata tuanya yang semakin dikelilingi keriput.

Kabar tentang cincin imitasi itu kini membuatnya selalu bertanya-tanya, menyelusup di antara hujan, terik matahari, kawat berduri, sepatu lars tentara yang berbaris baris. Apa sekarang emak sudah tahu kalau cincin itu palsu? Continue reading “Cincin dari Kota”

Irama Terbang Tua

Mahmud Jauhari Ali
Tabloid Serambi Ummah, 2 Jan 2009

Di antara hiruk-pikuknya kota, dan semakin pekatnya polusi di atmosfer tempat kelahiranku, aku masih seperti dulu. Ya, seperti dulu, setia dengan kesenian lama yang kini dipandang orang sudah usang dan berkarat. Batang usiaku kini telah mencapai kepala enam dan sedihnya, tanpa pewaris atas seni yang kubawakan dari waktu ke waktu. Temanku hanyalah sepasang kayu kering dan kulit hewan yang setia kepadaku. Continue reading “Irama Terbang Tua”

HUJAN HANYA TURUN SEBENTAR

Muhammad Rain

Hujan tinggal tetesan di bawah seng, mengetuk-ngetuk tanah penampungnya, terkena benda-benda yang mudah membuat bunyi makin nyaring. Iramanya bagai kesendirian seseorang di tengah malam. Menandakan kehadiran perulangan kehidupan. Air langit itu menyentuh perasaan rasa sunyi, seolah turut membasuh keringnya perasaan rindu seseorang tersebut. Rindu yang dirasakan tepat pada waktunya. Continue reading “HUJAN HANYA TURUN SEBENTAR”

Demi Pernikahan Adik

Mahmud Jauhari Ali
Tabloid Serambi Ummah, 15 Agus 2008

Aku masih teringat dengan kata-kata pak Hamid soal pernikahan adikku. Lelaki berusia setengah abad itu dengan teganya menolak adikku menjadi menantunya hanya karena uang seserahan yang belum dapat kami berikan sesuai permintaannya. Adikku sebenarnya sudah ingin sekali memiliki seorang wanita yang menemaninya dengan setia. Sudah dua tahun adikku berhubungan dengan Mia, anak pak Hamid. Continue reading “Demi Pernikahan Adik”

Bahasa ยป