Kunamai Kau Kenangan

Susy Ayu
http://oase.kompas.com/

Aku melihatmu di tengah kerumunan, dengan pucat yang memasi di seluruh mu. Tanah pijakanku serasa bergetar disaat kaki mungil bersepatu kets mu menjejak dari atas kereta malam terakhir. Udara malam kini menamparku berkali-kali dari keterpesonaan.
” Menepilah?!”
Sebelah tanganmu menutup wajah, ketika darah terpercik dari kerumunan. Sebelah lagi kau biarkan kuraih untuk menepi. Continue reading “Kunamai Kau Kenangan”

Jin Peliharaan Abi Lahab

Dyah Merta
http://suaramerdeka.com/

KAMPUNG Abi Lahab adalah kampung paling sunyi di wilayah ini, bahkan jika air mata jatuh pun bisa didengar oleh orang sekampung. Penduduknya tenang dan bernapas dalam irama yang hampir senada. Begitu damai. Tak ada petaka selama bertahun-tahun. Penuh senyum dan keriangan. Namun tiba-tiba saja, pagi ini, kampung Abi Lahab dikejutkan oleh sebuah ledakan yang terdengar seperti tabung gas meledak. Tabung gas yang meledak, begitulah awalnya orang-orang menduga. Dugaan yang cepat sekali membesar dari satu tabung menjadi lima tabung gas dan kasak-kusuk yang selama bertahun-tahun lenyap tiba-tiba juga muncul seperti hujan meteor. Continue reading “Jin Peliharaan Abi Lahab”

Menjemput Ajal

Hilal Ahmad
http://oase.kompas.com/

Sudah tiga jam lebih lelaki tua itu teronggok di sudut pelataran rumahnya. Kepalanya yang ditumbuhi rambut putih terkulai lemas, seperti ayam potong yang mengakhiri hidup lewat belati tukang jagal. Matahari belum berada tepat di atas kepala, namun hari seperti cepat menjemput malam.
*** Continue reading “Menjemput Ajal”

Menunggu Kentut Semar

Hujan Tarigan
http://oase.kompas.com/

Semar masih mesem-mesem. Dielusnya perut bundarnya yang kian besar. Seminggu dia menahan sakit sebab tak bisa kentut. Angin berputar-putar tak bisa keluar. Nyerinya menusuk saraf di otak. Tak heran sepekan ini perilakunya ganjil. Dia mau menceritakan penderitaannya itu kepada anak-anaknya. Namun dia malu dan tahu, bercerita pun, tetap tak ada solusi. Sebab anak-anaknya tengah sibuk merancang revolusi. Continue reading “Menunggu Kentut Semar”

Cangkir si Penyair

Eti Puji
http://oase.kompas.com/

Malam belum lagi larut ketika dia pulang dengan wajah kusut. Rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai terlihat masai. Setelah menutup pintu, perlahan dia berjalan ke arahku yang diam terpaku di sebalik tumpukan buku. Sampai di meja yang merapat ke jendela dia berhenti. Sempat kulihat dia menarik nafas dan mengembuskannya kuat-kuat, seakan berharap beban di pundaknya ikut terangkat. Dan kurasakan bau alkohol yang begitu menyengat. Hmm? sepertinya dia menenggak arak lagi malam ini. Lalu diletakkan tas butut kesayangannya di atas meja dan berlalu begitu saja. Berlalu begitu saja. Tak memperhatikanku. Mengabaikan keberadaanku. Continue reading “Cangkir si Penyair”

Bahasa ยป