Indra Tranggono
jawapos.com
Tubuh Sateer membeku. Kapan jantungnya memutuskan untuk berhenti berdegup, hanya dia yang tahu. Sebuah riwayat telah ditutup dengan cara yang begitu teaterikal.
Di reruntuhan bangunan dekat pasar dan rumah ibadah di Kota Dazblath, Sateer merencanakan sendiri kematiannya. Tubuhnya serupa melayang di udara. Di lantai tiga sebuah gedung yang tidak utuh lagi, Sateer mengikatkan kedua tangannya pada kabel-kabel tembaga berukuran jempol kaki orang dewasa. Tubuhnya menjadi serupa kain yang menjuntai, melambai, bergenteyongan di udara. Baju longgarnya yang serbaputih –serupa jubah– berkibar-kibar. Continue reading “Ia Tak Bunuh Diri di Hari Minggu”
