Ia Tak Bunuh Diri di Hari Minggu

Indra Tranggono
jawapos.com

Tubuh Sateer membeku. Kapan jantungnya memutuskan untuk berhenti berdegup, hanya dia yang tahu. Sebuah riwayat telah ditutup dengan cara yang begitu teaterikal.

Di reruntuhan bangunan dekat pasar dan rumah ibadah di Kota Dazblath, Sateer merencanakan sendiri kematiannya. Tubuhnya serupa melayang di udara. Di lantai tiga sebuah gedung yang tidak utuh lagi, Sateer mengikatkan kedua tangannya pada kabel-kabel tembaga berukuran jempol kaki orang dewasa. Tubuhnya menjadi serupa kain yang menjuntai, melambai, bergenteyongan di udara. Baju longgarnya yang serbaputih –serupa jubah– berkibar-kibar. Continue reading “Ia Tak Bunuh Diri di Hari Minggu”

Di Atas Dipan Penantian

Zelfeni Wimra
http://www.jawapos.com/

Datanglah bermalam sesekali. Di sebelah tempat tidurku, bersisian dengan jendela, ada dipan bambu. Kau boleh tidur di situ. Maafkan, kapas kasurnya sudah tipis dan dingin. Biasanya, bapak yang tidur di sana. Tapi sejak tiga hari yang lalu bapak tidak lagi di sini. Ia kuminta pergi mencarikan obat untukku.

Kau juga boleh mengeping kayu dan membakarnya di tungku. Memasak nasi atau merebus air. Bikinlah kopi, baca buku, atau mendengarkan radio. Kalau tengah malam, ketika uir-uir berhenti bernyanyi dan udara seperti letih menggendong cuaca, jangan tercengang, kau mungkin akan dikejutkan oleh gaduh suara dari tengah rimba. Continue reading “Di Atas Dipan Penantian”

Tukang Cuci

Mardi Luhung
koran.kompas.com

Perkenalkan. Namaku Tukang Cuci. Pekerjaanku tukang cuci. Hidupku tukang cuci. Dan sebagai tukang cuci, aku mencuci semua yang perlu untuk dicuci. Biar bersih. Biar cling. Tak ada daki. Tak ada kotoran. Dan tak membuat bagi yang memakainya menjadi malu. Lalu membenamkan mukanya ke dalam bak kamar mandi. Mencoba mengusir rasa malunya itu. Continue reading “Tukang Cuci”

Dua Kawan di Tepi Pantai

Isbedy Stiawan Z.S. *
lampungpost.com

BERJALAN ke arah matahari terbenam, sore hari, kemilau langit. Setelah gang pertama dari tempat kos, aku terus menyeret kedua kakiku. Entah apa yang ada di benakku. Benar-benar kosong.

Pikiranku akhir-akhir ini memang kacau. Tak menentu. Tetapi, aku selalu membunuhnya. Sehingga pikiranku benar-benar kosong. Aku terkadang tersenyum, di waktu lain geram. Continue reading “Dua Kawan di Tepi Pantai”

Taman yang Pernah Kusinggahi

S.W. Teofani
http://www.lampungpost.com/

AKU menuju Firdaus. Sebuah taman yang dijanjikan Tuhan bagi jiwa-jiwa tenang. Tuhan memanggil jiwa-jiwa itu lebih lembut dari desau angin. “Hai jiwa-jiwa tenang, datanglah kepada Tuhanmu dengan kegembiraan dan ridho-Nya. Masuklah pada barisan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke surgaku.”

Hatiku berdegup kencang. Mangeja; termasukah aku salah satu jiwa yang dipanggil semesra malam pengantin. Air mataku meleleh, manelaah, mungkinkah panggilan itu pantas untuk jiwa-jiwa gelisah, seperti jiwaku. Continue reading “Taman yang Pernah Kusinggahi”

Bahasa ยป