Cerita Singkat tentang Para Pembunuh Psikopat

Beni Setia
jawapos.com

WARTAWAN cepak yang kemarin memburu dan minta komentar itu mendadak muncul –entah dari mana ia tahu warung tempatku nongkrong– tepat ketika Yu Mah menghidangkan segelas kopi dan empat potong pisang goreng. Tanpa malu dan jauh dari mau menghargai privasiku ia segera menyorongkan koran sambil menghenyak di samping. Melirik ke Yu Mah dan minta dibuatkan kopi. Menyulut rokok dan bertanya apa aku keberatan dengan berita tentang kematian Marni di halaman muka. Continue reading “Cerita Singkat tentang Para Pembunuh Psikopat”

Gerbong Maut 1

Imam Muhtarom
balipost.co.id

Bagian 1

Kami berada di atas gerbong yang melaju tak terkendali. Seperti menaiki sebuah perahu kayu yang berputar di atas ombak dan telah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Perahu itu belum pernah berhenti. Kami seperti tersesat di perairan maha luas dan kami hanya bisa menduga-duga tentang keluasan itu. Continue reading “Gerbong Maut 1”

Gerbong Maut 2

Imam Muhtarom
balipost.co.id

Bagian 2-Habis

Tetapi anehnya, kami tidak melihat seorang pun di sela-sela rumah yang tidak berbeda dengan kardus-kardus kue itu. Menangis tersedu-sedukah anak-anaknya? Atau tubuh-tubuh bergelimpangan berlumuran tanah dan darahkah? Atau malah berlari-lari seraya tertawa-tawa karena mereka telah terbiasa dengan peristiwa itu sehingga mereka telah terlatih menghadapinya dan setiap letusan gunung itu berulang mereka menganggapnya latihan tubuh belaka? Continue reading “Gerbong Maut 2”

Lhok Samawi

Abidah El Khalieqy
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

TENTANG cinta? Aha! Telah berapa windu aku hidup di alam asing di sebuah negeri tanpa matahari berkota melompong tak ada telinga tak ada mata tak ada hati tempat kita merasa sebagai manusia. Dan kau bilang mau datang ke rumahku? Di mana? Coba katakan! Adakah rumah tanpa alamat nirkampung nirkota? Continue reading “Lhok Samawi”

Jendela Tua

Iyut Fitra
http://cetak.kompas.com/

Selalu. Pada akhirnya kita akan pulang pada kesendirian. Setelah suami meninggal. Setelah anak-anak memilih rantau sebagai tujuan kehidupan. Dan rumah gadang hanya tinggal sebagai simbol kekokohan yang sebenarnya teramat rapuh dan sunyi. Di sanalah bermukimnya para ibu tua. Dengan kebaya lusuh. Dengan selendang usang. Menyulam waktu yang tak terukur. Menjahit rentang tak terkira. Lengang. Dan sendiri. Tapi hidup, tentu akan terus berjalan. Continue reading “Jendela Tua”

Bahasa ยป