Sukat

Salman Rusydie Anwar
Kedaulatan Rakyat, 20 Nov 2011

Menurut orang-orang dan terutama perempuan-perempuan yang ada di kampungnya, Sukat hanyalah lelaki biasa. Wajahnya sungguh tidak menarik, karena selain agak hitam juga ada bekas luka di pipi kiri dan dagunya yang membuatnya semakin tidak sedap dilihat. Tak hanya itu, Sukat juga dikenal sebagai lelaki pengangguran yang lebih banyak menghabiskan waktu siangnya dengan tidur di pos ronda dan jika malam pergi keluyuran entah kemana. Continue reading “Sukat”

Kardus-Kardus Penopang Kehidupan

Latif Nur Janah
http://www.kompasiana.com/Latif-Nur-Janah

Matahari mulai merangkak meniti cakrawala, sementara ia masih menenteng karung plastik yang menjadi temannya mengais secercah kehidupan. Dengan bekal sebotol air mineral yang tinggal separo, ia masih saja berputar berkeliling jalan raya, berharap ada seseorang yang akan memanggilnya dan membutuhkan jasanya. Dan ketika ia mulai merasa lelah, ia bersandar pada sebatang pohon di pinggir jalan dengan aroma got yang senantiasa menjadi pendamping kala ia menguap, merasakan kenyamanan sesaat. Continue reading “Kardus-Kardus Penopang Kehidupan”

Si Tupai yang Tak Sempurna

Julio Nangkoda *
http://www.kompasiana.com/JulioMN

Ada dua ekor Tupai jantan di sebuah koloni atau desa Tupai. Mereka bernama Clichy dan Harmly. Pada hakikatnya setiap makhluk hidup harus berkembang biak dan saling memiliki pasangan. Clichy yang mempunyai 4 kaki lengkap lebih lincah dalam mengambil biji-bijian dari atas pohon. Sedangkan Harmly yang hanya memiliki 1 kaki depan dan 2 kaki belakang pasti lah lebih lambat untuk mengambil biji-bijian. Continue reading “Si Tupai yang Tak Sempurna”

Pohon Hayat

Mashdar Zainal
cerpenkompas.wordpress.com

Sebelum daun milik nenek gugur, nenek pernah bercerita perihal sebuah pohon yang tumbuh di tengah alun-alun kota. Kata nenek, pohon itu telah ada sejak ratusan atau mungkin ribuan tahun lalu.

Tak ada yang tahu persis, kapan dan bagaimana pohon itu tumbuh. Sewaktu nenek kecil, pohon itu sudah menjulang meneduhi alun-alun kota, serupa payung raksasa. Menilik kokohnya, tampaknya akarnya telah menancap jauh ke kedalaman bumi. Batangnya pun tampak seperti lengan lelaki yang kuat dan penuh urat. Dahan dan ranting berjabar serupa jari-jemari yang lentik. Dedaunnya lebar serupa wajah-wajah yang tengah tersenyum dalam keabadian. Continue reading “Pohon Hayat”

Gadis Tegar Itupun Menangis

Sr. Sebastiana. CIJ
Pos Kupang, 27 Sep 2009

KAMPUS itu lengang dan sunyi, yang tertinggal hanya bebarapa satpam penjaga kampus. Langkah kakinya lambat seakan sarat beban yang harus dipikulnya. Tapi pandanganku tertuju pada wajahnya yang ayu nan cantik meski ia tak tahu aku sedang memperhatikannya. Dalam hatiku aku bergumam, “Ah, gadis cantik yang malang, betapa tragisnya hidupmu.” Continue reading “Gadis Tegar Itupun Menangis”

Bahasa ยป