Imajinasi, Observasi, dan Intuisi pada Cerpen “Langit Makin Mendung”

H. Bahrum Rangkuti

Tidak mudah melukiskan secara objektif dan ilmiah judul di atas ini, lebih-lebih karena cerpen Langit Makin Mendung karangan Kipandjikusmin, sangat dihebohkan oleh golongan besar umat Islam. Hamka sendiri sebagai saksi ahli dalam sidang pengadilan atas dimuatkannya cerpen tersebut dalam majalah Sastra, merasa dirinya sangat tersinggung dan menyatakan kepada hakim ketua, ia akan murtad jika ia sebagai Penanggung Jawab majalah Kiblat memuatkannya dalam majalah yang dipimpinnya itu. Continue reading “Imajinasi, Observasi, dan Intuisi pada Cerpen “Langit Makin Mendung””

Tantangan dan Masa Depan Kritik Sastra Indonesia

Martin Suryajaya

Berakhirnya Era Polemik Besar Sastra Indonesia

Dalam perkembangan sastra Indonesia kontemporer, orang sering mempertanyakan di mana sumbangan para kritikus. Sebagian berpendapat bahwa kritik sastra kita tidak lagi melahirkan polemik besar di tataran paradigmatik. Setelah polemik seputar “sastra wangi” dan “sastra digital” pada awal tahun 2000-an, kita tak menjumpai lagi polemik sastra dengan permasalahan yang cukup segar (kecuali permasalahan musiman seperti pembabakan angkatan dan kanon sastra). Continue reading “Tantangan dan Masa Depan Kritik Sastra Indonesia”

Proses Lahirnya Manifes Kebudayaan

D.S. Moeljanto

Naskah Manifes Kebudayaan selesai dikerjakan oleh Wiratmo Soekito pada 17 Agustus 1963 pukul 04.00 WIB. Setelah dipelajari, akhirnya dapat diterima oleh Goenawan Mohamad dan Bokor Hutasuhut, sebagai bahan yang akan diajukan ke diskusi pada 23 Agustus 1963 di Jalan Raden Saleh 19 Jakarta. Kemudian naskah tersebut diperbanyak dan disampai­kan kepada sejumlah seniman untuk dipelajari, jika dianggap perlu diberi catatan-catatan sebagai landasan ideal. Continue reading “Proses Lahirnya Manifes Kebudayaan”

MASIH SEPUTAR PERKARA MUDIK DAN PULKAM

Maman S. Mahayana *

Kata mudik dan ungkapan pulang kampung, kini jadi polemik. Tiba-tiba bermunculan beberapa akademisi yang mengklaim diri sebagai pakar bahasa. Mereka coba menjelaskan kata dasar dan bentukan baru kata mudik, diikuti dengan keterangan yang dicomot dari kamus yang lalu ditafsirkannya sendiri. Problem besar yang melekat pada keterangan orang-orang yang merasa seolah-olah sebagai pakar bahasa itu adalah rujukannya yang cuma pada satu kamus, yaitu Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring. Continue reading “MASIH SEPUTAR PERKARA MUDIK DAN PULKAM”

KRITERIA KEBENARAN PREDIKATIF DALAM TEORI KEBENARAN SEMANTIK MENURUT ALFRED TARSKI

Ahmad Yulden Erwin *

“Salju berwarna putih jika, dan hanya jika, salju berwarna putih.”

Demikianlah silogisme tautologis yang dibuat oleh Alfred Tarski, seorang filsuf logika abad ke-20 dari Polandia, yang dianggap sebagai salah satu filsuf logika terbesar dan telah mengubah wajah logika pada abad ke-20. Pada kalimat di atas, Tarski hendak membuktikan bahwa kebenaran suatu kalimat tergantung pada nilai kebenaran dari kalimat-kalimat atomik (proposisi-proposisi) di mana subjek dari kalimat atomik itu harus merujuk (berkorespondensi) kepada benda X (fakta) di dalam dunia nyata. Continue reading “KRITERIA KEBENARAN PREDIKATIF DALAM TEORI KEBENARAN SEMANTIK MENURUT ALFRED TARSKI”

Bahasa »