Insan Berderajat Mulia (I)

Puji Santosa
http://www.facebook.com/pujies.9

Seorang kawan fb @Ratna Widihastuti: bertanya pada saya: ?Wujud manusia yang bagaimana yang punya derajat tinggi menurut pandangan Anda??

Jawaban atas pertanyaan itu adalah kurang lebih sebagai berikut.

Manusia (insan) yang telah mempunyai derajat tinggi (mulia dan luhur) adalah insan yang telah mendekati kasunyatan hidup hingga mencapai pamudaran, yaitu rasa bahagia di dalam batinnya, tenang, tenteram, damai, sejahtera, dan berbudi rahayu, sampai pada keindahan yang tiada tara. Continue reading “Insan Berderajat Mulia (I)”

Belajar dari Komunitas Sastra Dunia

Iwan Gunadi
http://www.lampungpost.com/

JANGAN pernah memastikan bahwa kehadiran komunitas sastra di Indonesia yang marak sejak 1980-an merupakan suatu fenomena yang khas di dunia. Di belahan dunia lain, hal yang sama juga terjadi.

Meski aktivitas kreatif dalam kesenian, termasuk kesusastraan, umumnya masih dilakukan secara individual alias soliter, sebagai makhluk sosial, pelakunya, yakni seniman atau pekerja seni, termasuk sastrawan atau pekerja sastra; tetap butuh bersosialisasi dalam kelompok yang memiliki kesamaan cita-cita. Continue reading “Belajar dari Komunitas Sastra Dunia”

Soeharto dan Fenomena Politik Kebudayaan

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Sastrawan Sobron Aidit bertemu dengan Ramadhan KH – keduanya telah mendiang – dalam peluncuran buku karya Sobron. Keduanya terlihat sempat berpelukan, segala catatan sejarah kebudayaan termasuk sastra seakan telah pupus dengan keakraban keduanya.

Sekalipun sastrawan Martin Aleida yang semasa mudanya sempat ikut sebagai salah satu sastrawan anggota Lekra, mengatakan di kemudian hari bahwa islah bisa terjadi, tapi penegakan HAM tetap harus dilakukan. Banyak juga keluhan atas ketidakadilan termasuk soal eksistensi berkarya pada masa lalu, yang dibocorkan pada masa pra-reformasi. Continue reading “Soeharto dan Fenomena Politik Kebudayaan”

Erotisme Seni untuk Apa?

Maria Magdalena Bhoenomo
http://www.suarakarya-online.com/

Pertanyaan bernada gugatan seperti judul tulisan ini, mungkin bisa digeneralisasikan. Misalnya, erotisme sastra untuk apa? Dan jika pertanyaan ini disederhanakan lagi, mungkin terkesan tolol: untuk apa erotisme? Dan, ada pertanyaan yang lebih tolol lagi: untuk apa meributkan erotisme?

Demikianlah, masalah erotisme selalu mengemuka dalam karya sastra dan karya seni lainnya (seni rupa, tari, lagu, teater) sehingga memancing tanda tanya dan perdebatan yang biasanya berujung pada terbentuknya sikap ‘demokratis’ manakala semua pihak harus menghormati selera dan pendapat masing-masing. Continue reading “Erotisme Seni untuk Apa?”