PENULISAN SEJARAH SASTRA INDONESIA (11)

: PENDEKATAN PENULISAN SEJARAH

Djoko Saryono

Setiap penulisan sejarah sastra Indonesia menggunakan pendekatan tertentu sebagai sudut pemandangan dan dimensi perhatian atas bahan-bahan sejarah sasta meskipun tidak dikemukakan secara eksplisit. Dalam hubungan inilah setiap historiografi bisa ditelaah pendekatannya dengan memperhatikan historiografi itu sendiri, bukan penjelasan penulisannya. Bagaimanakah pendekatan keenam historiografi yang telah kita bicarakan sebelumnya? Mari kita menelusuri pendekatan penulisan sejarah sastra Indonesia yang terdapat dalam KBI, SSIM, ISSI, SBI I, SBI II, dan LSIM. Continue reading “PENULISAN SEJARAH SASTRA INDONESIA (11)”

PENULISAN SEJARAH SASTRA INDONESIA (10)

: PEMBABAKAN SEJARAH SASTRA INDONESIA

Djoko Saryono

Jakob Sumardjo dalam Lintasan Sastra Indonesia Modern I (LSIM) mengklasifikasikan babakan sejarah dan angkatan sastra Indonesia berbeda dengan Zuber Usman dalam KBI, Bakri Siregar dalam SSIM, Ajip Rosidi dalam ISSI, dan Teeuw dalam SBI. Dalam LSIM, Jakob Sumardjo mengklasifikasikan sastra Indonesia menjadi enam babakan sejarah dan angkatan sastra. Continue reading “PENULISAN SEJARAH SASTRA INDONESIA (10)”

PENULISAN SEJARAH SASTRA INDONESIA (9)

: PEMBABAKAN SEJARAH SASTRA INDONESIA

Djoko Saryono

Sastra Baru Indonesia I dan II (SBI) karya A. Teeuw mengklasifikasikan babakan sejarah dan angkatan sastra Indonesia berdasarkan peristiwa sosial politik, yang mempengaruhi perkembangan budaya, bahasa, dan sastra. Oleh Teeuw sejarah sastra Indonesia dipilah menjadi babakan sejarah dan angkatan sastra (i) sebelum perang, dan (ii) sesudah perang, (iii) tahun 1955 sampai dengan tahun 1965, dan (iv) sesudah tahun 1965. Continue reading “PENULISAN SEJARAH SASTRA INDONESIA (9)”

PENULISAN SEJARAH SASTRA INDONESIA (8)

: PEMBABAKAN SEJARAH SASTRA INDONESIA

Djoko Saryono

Dalam Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (ISSI), Ajip Rosidi membuat pembabakan sejarah dan angkatan sastra Indonesia berbeda dengan Zuber Usman dalam KBI dan Bakri Siregar dalam SSIM. Meskipun demikian, isinya tidak dapat dikatakan sangat berbeda, maksudnya isinya atau bahannya ada kemiripan dengan pembabakan sejarah dan angkatan sastra dalam KBI dan SSIM. Dalam hubungan ini, Ajip dalam ISSI tidak menggunakan istilah angkatan atau generasi, melainkan period yang lebih didasarkan atas satuan waktu, bukan nama peristiwa kesastraan dan kebudayaan. Continue reading “PENULISAN SEJARAH SASTRA INDONESIA (8)”

PENULISAN SEJARAH SASTRA INDONESIA (7)

: PEMBABAKAN SEJARAH SASTRA INDONESIA

Djoko Saryono

Bakri Siregar dalam Sedjarah Sastra Indonesia Modern (SSIM) (1964) mengemukakan pembabakan waktu dan angkatan sedikit berbeda dengan KBI. Dalam SSIM, pembabakan dan angkatan sastra Indonesia diklasifikasikan berdasarkan kesadaran nasional sesuai dengan kelahiran sastra Indonesia yang didorong oleh kesadaran nasional. Continue reading “PENULISAN SEJARAH SASTRA INDONESIA (7)”

Bahasa ยป