KEHADIRAN APRESIASI SASTRA (8)

Djoko Saryono *

/0/
Kita bisa mendapatkan tiga keberadaan atau kehadiran apresiasi sastra. Pertama, ada umumnya kita merasa yakin bahwa sesuatu yang dinamakan apresiasi sastra itu hadir secara substansial dan mandiri walaupun kita belum mengetahui sosok dan jati dirinya secara tegas. Kedua, pada umumnya kita merasa yakin bahwa apresiasi sastra berbeda dan dapat dibedakan dengan, misalnya, kritik sastra dan penelitian sastra. Kemudian ketiga, apresiasi sastra merupakan sosok tersendiri dalam dunia (penghadapan) sastra atau dunia penggaulan sastra yang harus diakui dan diabsahkan. Continue reading “KEHADIRAN APRESIASI SASTRA (8)”

WAKTU, SEJARAH, DAN CITRA HEWANI DALAM CERPEN AHJ. KHUZAINI

S. Jai *

JIKA boleh dikata sejarah itu mewaktu, maka sastra meruang.
Tentu saja ini jikalau kita memaksakan diri membedakan antara sejarah dan sastra.

Barangkali keduanya memang berbeda. Boleh jadi pula keduanya sebetulnya sama, atau setidaknya keduanya dapat saling mengutuhkan—jika tak hendak mengatakan apa-apa perihal keduanya. Continue reading “WAKTU, SEJARAH, DAN CITRA HEWANI DALAM CERPEN AHJ. KHUZAINI”

KETERPADUAN FUNGSI APRESIASI SASTRA (7)

Djoko Saryono *

Empat fungsi apresiasi sastra yang sudah diulas sebelumnya tidak selalu terpisah. Ada kalanya malah berpadu. Maksudnya, dalam suatu proses apresiasi sastra bisa teremban atau tertunaikan beberapa fungsi sekaligus. Hal ini bergantung pada proses keberlangsungan apresiasi sastra, pengapresiasi sastra, dan karya sastra. Jika proses apresiasi berlangsung secara afektif-intelektual dan pengapresiasi sastra bertipe afektif-intelektual serta karya sastra berbobot atau bermutu, maka berbagai fungsi bisa tertunaikan sekaligus. Sebagai ilustrasi perhatikan puisi berikut ini. Continue reading “KETERPADUAN FUNGSI APRESIASI SASTRA (7)”

Bahasa »