Nyoman Tusthi Eddy
KALAU para tetua Bali di masa lalu (khususnya yang beragama Hindu) menyuruh anak-anaknya mempelajari sastra, maka yang dimaksud dengan sastra bukan saja Sastra Indah (Pigeaud via Darusuprapta, 1976), tetapi juga bahan-bahan tertulis lainnya. Sebagian besar bahan-bahan ini bersubstansi agama, moral, dan etika yang dimaksudkan sebagai acuan hidup bagi pembacanya. Jadi, ruang lingkup sastra dalam hal ini meliputi seluruh karya tulis, bukan hanya seni sastra. Continue reading “Fungsi Sastra dalam Tradisi Bali”
