Achdiat K Mihardja Dari “Sadar Nar” ke “Sadar Nur”

Damhuri Muhammad *
sinarharapan.co.id

Adalah lumrah bila agamawan bicara tentang Tuhan, karena memang di sanalah “maqam” dan perannya. Tapi, akan mencengangkan bila Achdiat K. Mihardja tampil seperti mubaligh, dan secara terang benderang menyeru agar manusia kembali pada “kesadaran kebertuhanan”. Menyibak tabir “kejahiliahan” modern bahwa rasionalisme, sekularisme, eksistensialisme dan “isme-isme tak bertuhan” lainnya telah menjerat manusia menjadi representator watak setan di muka bumi. Maka, sudah saat manusia “kembali ke pangkal jalan”. Apa istimewanya Aki (demikian panggilan akrabnya) bicara Tuhan? Ia bukan agamawan, kyai, dan pengkhutbah, melainkan novelis angkatan 45 yang dari tangannya lahir maha karya Atheis (1949). Continue reading “Achdiat K Mihardja Dari “Sadar Nar” ke “Sadar Nur””

Estetika dari Eksotika Timur

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Walau pameran patungnya yang bertajuk ?Tribal Art? mempertemukan timur dan barat, tetap saja nuansa timur yang lebih kental terasa. Seniman Antonius Kho memang berbekal latar belakang filosofi timur yang begitu kuat hingga merangsang penciptaannya.

Patung-patung yang dibuatnya mengingatkan pada totem yang kerap dijumpai di Papua. Bentuknya yang mengukir, berputaran halus, sedikit pun tak menyisakan sudut simetris yang tajam pada karya-karyanya. Continue reading “Estetika dari Eksotika Timur”

Perihal Stagnasi Dunia Puisi Kita

Aris Kurniawan
http://www.sinarharapan.co.id/

Puisi-puisi penyair mutakhir hadir sekadar mengadopsi puisi-puisi yang ditulis penyair terdahulu. Baik bentuk maupun tema/isi. Tampaknya penyair mutakhir kita telah menyerah pada bentuk dan gaya tradisi penulisan puisi yang dirintis oleh para pendahulu mereka sehingga timbul kesan, penyair Indonesia mutakhir adalah generasi sisa yang tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak ada upaya dan keberanian penyair mutakhir untuk melakukan terobosan dalam kerja kreatif mereka. Continue reading “Perihal Stagnasi Dunia Puisi Kita”

Reaktualisasi Lakon Realis, Suatu Tawaran

Raudal Tanjung Banua
sinarharapan.co.id

Posisi naskah drama dalam khazanah teater tanah air sebenarnya relatif unik, seunik keberadaan jagad teater itu sendiri. Kita misalnya, mengenal teater modern dan teater tradisional, yang relatif tidak popular dalam khazanah teater Barat. Salah satu unsur pembeda yang utama terletak pada ada atau tidaknya naskah yang dimainkan. Continue reading “Reaktualisasi Lakon Realis, Suatu Tawaran”

Belajar dari Korea dan Hongaria

Cecep Syamsul Hari
cetak.kompas.com

Tiga tahun lalu ketika saya menjadi sastrawan tamu di Korea dan pada hari ketiga saya tinggal sebagai sastrawan tamu di Hongaria, saya teringat kepada Harry Aveling yang selama tiga dekade setia menerjemahkan puisi-puisi para penyair Indonesia dari berbagai generasi ke dalam bahasa Inggris. Salah satu bukunya yang dikenal luas dan belum begitu lama diterjemahkan juga ke dalam bahasa Indonesia, Secrets Need Words: Indonesian Poetry 1966-1998 (Ohio University Press, 2001), banyak dirujuk para penulis buku antologi puisi di berbagai belahan dunia, antara lain dirujuk Tina Chang Continue reading “Belajar dari Korea dan Hongaria”

Bahasa ยป