Hamsad Rangkuti, Kereta Api dan Pohon Jati

Dimas
http://www.poskota.co.id/

Hamsad Rangkuti kembali bikin ulah unik. Dia menikahkan putranya dengan mengundang menteri kehutanan RI.
Sebagai penghormatan atas hadirnya Menhut, yang secara pribadi merupakan temannya, dia memberikan mas kawin 500 batang pohon jati unggulan kepada mantunya, yang langsung ditanam.

Mas kawin berupa 500 bibit pohon jati unggulan ini diberikan dalam ijab kabul Girindra Rangkuti dan Sitti Samrotul Fuadah yang disaksikan Menteri Kehutanan, MS Ka?ban, di Kampung Cimayang III RT 12 RW 05, Desa Cimayang, Pamijahan, Leuwiliang, Bogor, Minggu (5/7). Continue reading “Hamsad Rangkuti, Kereta Api dan Pohon Jati”

BERDERAP?BERKEJARAN DENGAN TUHAN

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Menafsir puisi, tentu saja tidak sama dengan memasukkan huruf-huruf untuk mengisi kotak-kotak kosong dalam teka-teki silang. Jika jawaban pada kotak menurun atau mendatar itu salah, maka jawaban itu akan mengganggu huruf lain yang menempati salah satu kotak pada lajur menurun atau mendatar. Menafsir puisi, juga tidak semudah menyusun kembali gambar-gambar puzzle. Jika salah satu bagian gambar itu salah letak, maka keseluruhan gambar itu akan memunculkan bagian yang nyeleneh atau nyengsol, berantakan. Continue reading “BERDERAP?BERKEJARAN DENGAN TUHAN”

Inlanderisasi dalam Sastra Indonesia (2 -Habis) *

Hudan Hidayat **

Dalam Pujangga Baru, Takdir bukanlah varian tunggal. Ada orang seperti Armijn Pane yang berpandangan, meski memeluk Barat, telah mempunyai semangat untuk melirik ke alam, untuk menjadikan alam sebagai dasar, sebagai sumber penciptaan. ‘Pujangga bergantung kepada keadaan alam. Alam itu, rahasia kepada kita, alam ialah lautan selubung, yang terbuka sedikit-sedikit, tetapi akan memperlihatkan lapisan selubung lain.’ Continue reading “Inlanderisasi dalam Sastra Indonesia (2 -Habis) *”

Inlanderisasi dalam Sastra Indonesia (1) *

Hudan Hidayat **

Keju dan roti, senjata api dan organisasi, adalah benda dan cara hidup yang dibawa kolonialisme, puak manusia yang telah mendayakan akalnya atas alam, dan bertopang atas daya itu, mendiktekan kemauannya pada anak jajahan. Puak yang ditempa oleh alam yang ganas, sampai tata pikir dan hidup, seolah hanya urusan mengalahkan alam. Bukan bingkai manusia yang bekerja-sama dengan alam. Maka penaklukkan atas manusia, adalah terusan dari penaklukkannya atas alam. Continue reading “Inlanderisasi dalam Sastra Indonesia (1) *”

Bahasa ยป