Kebudayaan Pesisir sebagai “Liyan”

Majapahit danDemak Menjadi Bukti Nyata

Dody Wisnu Pribadi
http://cetak.kompas.com/

Kegagalan kebudayaan era Indonesia modern sesungguhnya punya jejak jelas. Hal itu karena kekuasaan yang tumbuh berbasiskan pedalaman telah meninggalkan basis kebudayaan pesisir. Padahal, sejarah Majapahit dan Sriwijaya serta era pertumbuhan Islam Demak di pesisir utara Pulau Jawa membuktikan kemajuan peradaban yang dicapai justru karena berbasiskan ekonomi dan politik budaya pesisir. Continue reading “Kebudayaan Pesisir sebagai “Liyan””

Kedudukan Sastra Pesisir

Uniawati, S.Pd.
kendaripos.co.id

Jika kita menyinggung perihal sastra pesisir, yang pertama akan terbayang dalam benak kita adalah suasana pesantren atau suasana islami. Keadaan ini dimungkinkan oleh pemahaman kita mengenai sejarah perkembangan Islam di tanah air. Pada awalnya, perkembangan islam yang paling besar terjadi di sekitar daerah-daerah pelabuhan. Dalam hal ini wilayah pesisir ikut menjadi sasaran terjadinya perkembangan Islam. Proses penyiaran islam yang dilakukan kala itu salah satunya dilakukan melalui karya-karya sastra. Banyak karya sastra yang sengaja diciptakan untuk penyiaran agama Islam. Melalui karya-karya sastra itu, maka penyebaran agama Islam dapat menjadi lebih efektif. Continue reading “Kedudukan Sastra Pesisir”

Pionir Pamong Papua, Sebuah Kesaksian

Amiruddin Al Rahab*
http://oase.kompas.com/

Proses peralihan kekuasaan di Papua dari Belanda ke Indonesia di mata elite-elite Papua tampak begitu panjang dan tersirat menekan perasaan. Ketika kekuasaan Indonesia hadir, sebagai Pamong Praja yang dididik Belanda secara modern untuk membangun politik dan pemerintahan dengan etos kerja keras, mereka ini seperti anak ayam kehilangan induk didadak oleh rajawali. Continue reading “Pionir Pamong Papua, Sebuah Kesaksian”

SERENADA SEBUAH PERPISAHAN

Dodiek Adyttya Dwiwanto
http://oase.kompas.com/

Hei, mau dibawa ke mana aku? Halo, semuanya! Aku mau dibawa ke mana? Hei, semuanya!

Kok, tidak ada yang mendengar ya? Apa suaraku kurang keras? Padahal biasanya teriakanku cukup lantang. Puluhan tahun yang lalu, saat masih gadis, aku pernah ikut jadi Pasukan Pengibar Bendera. Jadinya yang namanya teriak, sudah sering aku lakukan. Apalagi kemudian saat menikah, aku memiliki empat anak, dua di antaranya lelaki yang nakalnya minta ampun. Kalau aku tidak berteriak-teriak, mereka tidak akan berhenti bermain. Tidak akan mau pulang ke rumah, meski hari telah magrib. Continue reading “SERENADA SEBUAH PERPISAHAN”

Bahasa ยป