Mengasah Hati Nurani

Setyo Budiantoro*
ttp://www2.kompas.com/kompas-cetak/

YB Mangunwijaya, Rumah Bambu, Kepustakaan Populer Gramedia, 2000, 218 halaman

JANGAN pernah membayangkan buku ini akan bercerita tentang perjuangan anak manusia yang memperjuangkan idealisme, seperti Minke dalam tetralogi dashyatnya Pram. Jangan pula merujuk Nietzche yang mencoba gigih “membunuh” Tuhan. Pokoknya, jangan merujuk penganut eksistensialisme yang mencoba menjadikan dirinya sendiri sebagai seorang pribadi. Bila Anda masih membawa perspektif itu ketika membaca buku ini, maka Anda akan kecewa, bahkan kecewa berat. Continue reading “Mengasah Hati Nurani”

Misteri Jiwa Tokoh pada Kumpulan Cerpen “Bila Bintang Terpetik”

Sihar Ramses Simatupang
sinarharapan.co.id

Banyak tema yang bisa digali seorang penulis. Maka, seorang penulis sastra pun pasti sengaja atau tak sengaja akan memilih pendekatan tertentu, untuk diapreasiasi, ditanggapi oleh pembaca, penikmat ataupun apresiator.

Akidah Gauzillah, dalam kumpulan cerpen Bila Bintang Terpetik (penerbit Beranda, Mizan Grup), terasa lebih memunculkan sudut internal di dalam karya-karyanya. Artinya, dalam cerpennya itu, dia memilih sisi dari tokoh untuk melihat ke dunia luar. Continue reading “Misteri Jiwa Tokoh pada Kumpulan Cerpen “Bila Bintang Terpetik””

Belajar ‘Tango’ dengan Avi Basuki

M. Arman A.Z.*
http://www.lampungpost.com/

DARI segelintir penulis cerpen asal Indonesia yang menetap di luar negeri dan memublikasikan karya-karyanya di koran dan majalah dalam negeri, salah satunya adalah Avi Basuki. Dia punya latar belakang profesi yang kompleks.

Merintis karier sebagai peragawati, kemudian menekuni sinematografi, menulis cerpen dan memublikasikannya di media massa nasional, dan Agustus lalu menerbitkannya dalam buku kumpulan cerpen bertajuk Tango. Continue reading “Belajar ‘Tango’ dengan Avi Basuki”

Memberi Makna pada Yang Fana

Agus Noor *
jawapos.co.id

Sepertinya, ada yang hilang dalam Euro 2008. Drama! Saya sangat setuju dengan pendapat Robert Coover bahwa ada sifat teater dalam permainan bola. Lapangan adalah panggung dan pertandingan adalah alur dramatik berdurasi 2 x 45 menit plus injury time. Setiap pertandingan menjadi menarik karena menampilkan drama dan suspense berbeda. Sifat teater itulah yang membuat sebuah pertandingan semakin menarik bila memenuhi aspek dramatik di dalamnya. Itulah, yang sampai saat tulisan ini saya buat, terasa hilang di panggung Piala Eropa kali ini. Continue reading “Memberi Makna pada Yang Fana”

Bahasa ยป