Main-Main, tapi kok Serius

Arif Zulkifli
http://majalah.tempointeraktif.com/

Renny merayakan ulang tahunnya dengan mementaskan Tumirah Sang Mucikari. Sebuah naskah kritik sosial dalam teater yang digarap dengan kurang bermain-main.
Tumirah Sang Mucikari
Sutradara : Renny Djajoesman
Skenario : Seno Gumira Ajidarma
Penata Musik: Fariz R.M.
Pemain : Renny Djajoesman, Budi Setiono, Ria Probo, Andi Bersama
Produksi : Teater Yuka Continue reading “Main-Main, tapi kok Serius”

(4) angkatan sesudah 2000 – dunia tanda yang membelah diri

Hudan Hidayat

Permainan Tafsir

Kita kembali kepada topik esai ini, yakni soal pengarang perempuan mutakhir: relijiusitas atau profan, yang saya coba luaskan dengan bandingan kepada pengarang lelaki juga.

Dalam pandangan taufiq ismail, pengarang yang tergabung dalam forum lingkar pena, rumah dunia atau bahkan organisasi nir laba yang menamakan dirinya sebagai boemiputera (wowok hesty prabowo, dan saut situmorang sebagai eksponen penting), berbekal ayat ayat suci formal, terutama taufiq ismail, Continue reading “(4) angkatan sesudah 2000 – dunia tanda yang membelah diri”

(3) angkatan sesudah 2000 – dunia tanda yang membelah diri

Hudan Hidayat

Pengarang perempuan di facebook

Perempuan yang menulis sastra ini, mendapat bentuknya yang lain saat saya mengamati sebuah dunia maya yang lain yakni facebook. Entah karena sistemnya yang lebih bisa bersahut-sahutan, di sini saya saksikan intensitas penulisan sastra dan respon mereka yang masuk dalam pertemanan facebook-nya lebih cepat terjadi dan lebih semarak. Continue reading “(3) angkatan sesudah 2000 – dunia tanda yang membelah diri”

(1-2) angkatan sesudah 2000 – dunia tanda yang membelah diri

Hudan Hidayat

Yang Relijius Dan Yang Profan

Sikap terhadap kehidupan dalam kaitan hari “kini” dan hari akan “datang”, sudah sepantasnya kita kembalikan kepada hekekat pengertian yang relijius dan yang profan itu sendiri.

Sebab dalam anggapan umum yang profan selalu berkait dengan yang fana – tubuh. Yang profan mengerucut kepada yang duniawi: hidup yang melayari arah-arah iseng, atau arah-arah ringan, atau arah-arah berat dari tiap nilai yang bertolak-tolak dengan kitab suci. di mana jiwa pejalannya seakan dianggap sebentang layar putih yang keciprat najis, dan karena itu mencitra hadirnya diri yang negatif. Continue reading “(1-2) angkatan sesudah 2000 – dunia tanda yang membelah diri”

Bahasa ยป