Penulis Penjual Buku?

Refleksi Pendampingan Komunitas Baca-Tulis di Mojokerto
Sutejo

“Tugas penulis memang menulis yang berkualitas, tetapi jika tidak mengerti medan pasar, untuk apa kita menulis. Tersebab, menulis bukan sekadar idealisme tetapi juga bernilai ekonomi.” (Sutejo)
***

Sebelumnya, mohon maaf kepada para guru kehidupan yang sudah lebih dulu menulis. Ini hanya untuk menggairahkan kehidupan kata. Continue reading “Penulis Penjual Buku?”

Nurul Hadi “Koclok” (23 Juni 1968 – 1 Agustus 2017) dalam Proses Kreatif saya!


Nurel Javissyarqi

Waktu terus bergerak; melengkung lebar, mengumpar, mengerucut, mengurai masa-masa juga mempersempat temponya. Melonjak naik, berkelejatan turun, meringkus tekanan, menggarami luka serta jauh dari perkirakan manusia. Dan searah lembaran telah tercatatkan, banyak orang memberi wewarna dalam proses kreatif saya ke alamnya kata-kata, meski secara tidak langsung atau setengah disengaja, yang melalui laku kehidupan sehari-hari bersamanya. Salah satunya, sang penggerak kesenian yang khususnya di panggung teater dan perfilman di Jogja, yakni Nurul Koclok. Semoga seluruh kalimat yang tertuang dalam catatan ini terbaluti alunan sholawat, dengan harapan kawan tercinta kita ini tenang damai di sisi-Nya. Continue reading “Nurul Hadi “Koclok” (23 Juni 1968 – 1 Agustus 2017) dalam Proses Kreatif saya!”

Persatuan Indonesia

Sanusi Pane

Dalam karangan “Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru dalam Pujangga Baru”, yang dikutip juga dalam Suara Umum ini, Tuan Sutan Takdir Alisjahbana membagi sejarah kita dalam dua bagian, zaman pra-Indonesia, sampai akhir abad ke-19, dan zaman Indonesia, yakni setelah masa itu. Zaman Indonesia tidak dapat dianggap kelanjutan atau terusan zaman pra-Indonesia.

Continue reading “Persatuan Indonesia”

Melindungi Nurani dari Tindakan Koruptif

Judul Buku: Bunga Rampai PMK: Bergerak dengan Nuran, Penulis: Laskar PMK 1-3, Penerbit: Forum Sastra Surakarta, Cetakan: I, 2017, Peresensi: Ahmad Muhli Junaidi *

Boleh jadi, fenomena korupsi yang semakin merebak dengan bukti semakin banyaknya pejabat negara, baik di tingkat pusat maupun daerah yang ditangkap OTT oleh KPK, disebabkan betapa kotornya hati nurani pejabat publik itu. Nurani yang kotor akan menyebabkan tindakan mereka jauh dari nilai-nilai kebaikan dan keadilan. Nurani yang kotor, menyebabkan hati menjadi culas dan serakah. Gaji berapa pun besarnya yang diterima para pejabat itu, tidak akan mencukupi di hadapan nurani yang kotor.

Continue reading “Melindungi Nurani dari Tindakan Koruptif”