Dharmadi: Ketika Sajak Kembali Menjejak

Abdul Aziz Rasjid
Kedaulatan Rakyat, 14 Des 2008

Empat tahun sesudah terbitan Aku Mengunyah Cahaya Bulan, muncullah sekarang: Dharmadi, kumpulan puisi Jejak Sajak (diterbitkan Kancah Budaya Merdeka: Purwokerto. 2008). Sebagian sajak-sajak yang termuat didalamnya tak dapat dikatakan muda, sebab ditulis dari rentang waktu 1994-2000, dan sebagian memang dapat dikatakan baru, sebab ditulis dari rentang waktu 2006-2007. Continue reading “Dharmadi: Ketika Sajak Kembali Menjejak”

Kredo Puisi dalam Pencitraan Politisi

Abdul Aziz Rasjid
Minggu Pagi, V Maret 2009.

Semoga masih terkenang di ingatan kita saat beberapa politisi negeri ini mengutip sebuah bait puisi untuk kepentingan mengkampanyekan diri. Salah satunya bait puisi Chairil Anwar “sekali berarti sudah itu mati”, dimanfaatkan seorang politisi untuk mempopulerkan namanya pada masyarakat. Bait puisi itu tak hanya terpampang pada spanduk-spanduk di tepi jalan atau surat kabar harian, kita juga menyaksikan bait puisi itu berkali-kali tampil di layar televisi. Continue reading “Kredo Puisi dalam Pencitraan Politisi”

Cinta, Cintaku, dan Sebagainya

Untuk Kekasih dan Semua yang Pernah jadi Kekasih
Abdul Aziz Rasjid
Radar Banyumas, 1 Feb 2009.

Di abad 11 Masehi, di dataran tinggi tanah Kasmhir. Seorang Brahmana bernama Kanchipur dihukum mati. Sebab ia mencintai muridnya sendiri, seorang putri bernama Champavati anak dari Raja Sundava.

Jauh, sebelum penghukuman itu terjadi. Raja Sundava memahami betul bahwa cinta dapat tumbuh di manapun, juga dalam bentuk apapun. Namun, bila cinta mesti mekar di antara keduanya maka cinta itu adalah terlarang, bahkan cinta yang tak boleh mengada di dunia. Sebab itu pula, Raja Sundava di awal kisah menipu keduanya. Continue reading “Cinta, Cintaku, dan Sebagainya”

Ambiguitas Kedirian Abdul Wachid B.S. di Banyumas

Abdul Aziz Rasjid

Pada lembar Cakrawala, Minggu Pagi no 37 TH 61 Minggu II Desember 2008, termuat sebuah puisi dari penyair Abdul Wachid B.S. berjudul “Purwokerto-Sokaraja”. Dari judul itu, kita dapat melayangkan dugaan bahwa sang penyair hendak bercerita tentang dua daerah yang terletak di Banyumas. Dugaan awal itu memang tidak salah, sebab lewat puisi “Purwokerto-Sokaraja”, Abdul Wachid B.S. —lahir di desa Bluluk, Lamongan 7 Oktober 1966 dan menjadi dosen negeri di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto sekaligus dosen tamu di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) sejak tahun 1997-sekarang— yang hampir setiap minggu melakukan perjalanan bolak balik antara Jogja dan Banyumas memaparkan pengalaman-pengalamannya ketika berada di Banyumas. Continue reading “Ambiguitas Kedirian Abdul Wachid B.S. di Banyumas”

Bahasa »