Cara Bode Membangun Khayalan

Abdul Aziz Rasjid
Radar Tasikmalaya, 16 Mei 2010

Tak jarang orang membangun khayalan sepanjang hidupnya. Tetapi sayang, ketika seseorang terus beranjak dewasa, khayalan hanya ditanggapi sebagai dunia permainan anak. Khayalan dipandang tak logis, kurang mendapat perhatian dan tanpa disadari ikut memutih bersama tumbuhnya uban di kepala.

Khayalan menjadi cara menumpahkan emosi, membayangkan dunia tersendiri yang diidamkan sambil membangun apa yang mewakili perasaan dengan memfungsikan segala sesuatu yang diterima oleh indera. Setiap khayalan dalam motif itu, berpangkal pada keinginan yang belum tercapai, bertujuan melakukan perbaikan dari kenyataan-kenyataan yang ada. Continue reading “Cara Bode Membangun Khayalan”

Kupu-kupu

Abdul Aziz Rasjid

Tetanggaku yang cantik,
Dalam deras hujan begini tak mungkin aku dapat menangkap kupu-kupu untukmu (yang pernah kau ceritakan padaku, hinggap sebentar dalam kamarmu). Karena itulah, dengan keinginan sama, yang bisa kulakukan untukmu adalah menangkap kupu-kupu lewat sebuah sajak. Tapi sebelum kulakukan itu, ijinkan aku mengurai secara ringkas tentang kehidupan kupu-kupu. Continue reading “Kupu-kupu”

Meledek Penyair, Menghormati Puisi

Abdul Aziz Rasjid

Aziz, Yusri Fajar, Denny Mizhar berfoto-foto dengan latar pendar-pendar kembang api pada malam tahun baru 2011 di lapangan rektorat Universitas Brawijaya, Malang. Nanang Suryadi, tak tahu kemana, mungkin ia suntuk menulis puisi di akun facebook-nya tentang sejauh apa kembang api dan puisi dapat memberi inspirasi bagi masyarakat untuk mulai menata harapan di awal pergantian tahun. Continue reading “Meledek Penyair, Menghormati Puisi”

Gibran, Selembar Surat untuk May Ziadah (1926)

Abdul Aziz Rasjid

Setiap pagi juga senjahari, Gibran –mungkin mengenakan baju berwarna hitam atau putih– melamun seorang diri, membayangkan dirinya seolah berada dalam sebuah rumah di Kairo bersama May Ziadah, gadis yang dicintainya. Dalam sebuah surat yang ia tulis di tahun 1928 pada May Ziadah, Gibran membayangkan bahwa dalam waktu-waktu itulah, ia memimpikan sebuah momen: May duduk di depannya membacakan artikel –entah yang Gibran tulis, maupun May yang menulis– padanya. Dan setelah itu, mungkin mereka akan berdebat, beradu pendapat lalu tertawa bersama. Continue reading “Gibran, Selembar Surat untuk May Ziadah (1926)”

Kroya yang Mendekatkan Diri pada Sastra

Abdul Aziz Rasjid
http://cetak.kompas.com/

Sastra di Indonesia masih lamban untuk menempatkan diri pada posisi kunci tetapi mengesankan ada pengambilan peran sebagai medium penyadaran alias medium meladeni krisis. Optimisme atas sastra mesti disemaikan sebelum krisis besar melahap sastra lalu melahirkan krisis sastra tanpa ada juru selamat dan jalan penyelamatan. Continue reading “Kroya yang Mendekatkan Diri pada Sastra”

Bahasa ยป