Soni dalam Secangkir Teh Puisi

Alex R. Nainggolan
suarakarya-online.com

Bagaimana membaca sebuah puisi sembari menyeruput secangkir teh sedang hangat-hangatnya? Mungkin di suatu senja, di beranda rumah-kau duduk menghadap sebuah pekarangan yang tak terlampau luas. Barangkali pula, kala itu hujan sedang turun dengan ritmis, membuatmu malas kemana-mana. Berdiam diri sendiri, membiarkan keasingan dari rintik hujan yang menciutkan nyali, keasingan dari udara dingin yang aneh. Continue reading “Soni dalam Secangkir Teh Puisi”

Puisi Thukul Bukan Sekadar Modal Dengkul

Alex R. Nainggolan
http://www.sinarharapan.co.id/

Penerbitan ulang kumpulan puisi Wiji Thukul Aku Ingin Jadi Peluru oleh Indonesiatera, barangkali sedikit unik. Di tengah riuh reformasi, di mana keran kebebasan ekspresi seni yang terbuka lebar, puisi-puisi Thukul, yang acapkali bernada protes itu, mungkin terkesan biasa, bahkan tak ada artinya sama sekali. Kita pun sama-sama tahu, jauh sebelum Thukul menulis sejumlah puisi yang bernada kecaman, W.S. Rendra, di paruh dekade 70-an sudah menuliskan dalam Potret Pembangunan dalam Puisi, atau Emha Ainun Nadjib dengan Sesobek Catatan Buat Indonesia. Kegeraman para penyair itu, merupakan saksi abadi, yang membungkus segala ketimpangan sekaligus protes terhadap kondisi sosial-ekonomi di tengah masyarakat. Continue reading “Puisi Thukul Bukan Sekadar Modal Dengkul”

Kisah-kisah yang Pendek

Alex R Nainggolan
http://suaramerdeka.com/

Rumah
SEDARI dulu, ia ingin tinggal di rumah saja. EDARI dulu, ia ingin tinggal di rumah saja.
Menata beranda, membuat kolam kecil, taman kecil, atau beberapa rencana kecil lainnya. Tapi selalu saja ia diburu waktu. Tiba-tiba hari tumbuh dengan cepat. Pagi ke malam.
Ia cuma sempat istirahat. Membuang penat. Membuang jengkel. Lalu ia ingat seorang perempuan berbaju ungu -yang menuntun lengannya. Pada suatu waktu. Continue reading “Kisah-kisah yang Pendek”

Bahasa ยป