Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin *

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid.

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Continue reading “Puisi Sufi, Puisi Kesunyian”

Waktu di Sayap Malaikat

Asarpin *
lampungpost.com

Dari sekian banyak penyair yang menulis tentang waktu, hanya sedikit sajak yang sungguh-sungguh menghadirkan pergulatan tentang waktu.

KALAU Voltaire membayangkan waktu sebagai ukuran keabadian, sesuatu yang panjang, saya hendak menegaskan di sini: waktu dapat dijadikan bahan tes bagi autentisitas seseorang. Kalau dia penyair, keautentikan dirinya sebagai penyair akan terlihat ketika ia menggarap soal waktu. Autentik atau tidak puisi yang dihasilkannya, juga dapat dilihat dan dirasakan oleh pembaca ketika ia membicarakan soal waktu. Continue reading “Waktu di Sayap Malaikat”

Surat buat Sahabat

Asarpin

Sahabat yang baik,
Sudah lama kita tak jumpa, pertukar-pikiran dalam diam, seperti dulu ketika kita masih tinggal serumah di bilangan Billy Moon H1/7 itu. Dengan menanyakan kabarmu, saya mengingatkan suatu masa ketika kita asyik berdiskusi tentang ruang dan rumah. Mula-mula kau menyinggung ruang jalan; ruang dinamis, yang begitu cepat mempengaruhi relasi antarmanusia. Dinamika menjadi hal nyata. Continue reading “Surat buat Sahabat”

Melebur Diknas dan Depag

Asarpin

Beberapa waktu lalu ada dua orang teman alumni IAIN yang diterima sebagai guru pegawai negeri sipil. Yang satu diterima melalui jalur Departemen Pendidikan Nasional (Diknas), dan yang satunya melalui Departemen Agama (Depag). Yang pertama lebih percaya diri dan meledek yang kedua. Jadi guru lewat jalur Diknas, katanya, lebih menjanjikan ketimbang lewat jalur Depag. Tapi ketika ditanya apanya yang lebih menjanjikan, ia tak bisa menjawab. Continue reading “Melebur Diknas dan Depag”

Bahasa »