Identitas dan Lokalitas

Asarpin

Ada fenomena menarik tentang identitas dan lokalitas belakangan ini. Ada tanda-tanda kebangkitan kembali identitas lokal di sejumlah negara Asia dan Afrika. Di Indonesia sendiri, terjadi proses penguatan identitas seiring dengan proses pembusukan modernitas.

Sejak reformasi hingga diterapkannya otonomi daerah, klaim-klaim tentang identitas, ras, dan prasangka etnis, kian menonjol. Di berbagai panggung dan karnaval politik, ada tanda-tanda menguatnya semangat kesukuan. Continue reading “Identitas dan Lokalitas”

Sumpah Bersejarah

Asarpin

Bahasa Indonesia bermula dari proyek kebangsaan. Ini setidaknya bisa dilihat sejak Sumpah Pemuda 1928, di mana harapan untuk menjadikan bahasa sebagai proyek nasionalisme di kalangan kaum pergerakan mencapai puncaknya dengan membacakan ikrar bersama tentang pentingnya memiliki satu bangsa, satu nusa dan satu bahasa.

Ungkapan ”bahasa menunjukkan bangsa” tampaknya mempertegas hubungan lama antara bangsa dan bahasa. Bahasa Indonesia pada mulanya berjalan seiring dengan derap-langkah nasionalisme. Continue reading “Sumpah Bersejarah”

Gunung Putri

Asarpin

Namanya terpacak pada lempengan nisan keramat Gunung Putri. Ia adalah putri tunggal Pengeran Paksi Marga pertama Gajah Minga. Usianya baru 20 tahun ketika bahala menimpa. Sang putri dikenal ramah di kalangan kawula. Sangat rancak dan cantik parasnya. Karena itu usianya tidak lama dan namanya segera diabadikan dalam sebuah hikayat yang disampaikan dari mulut ke mulut. Continue reading “Gunung Putri”

Anak dan Cermin

Asarpin

Anak, seperti juga hewan, menggunakan semua indra mereka untuk menemukan dunia. Kemudian seniman datang dan menemukannya lagi dengan cara yang sama (Eudora Welty).

Mari bercermin pada anak, tuan. Dan mari beranak pada cermin, kawan.
Seorang anak adalah pribadi spontan. Kadang penuh kejutan. Sementara cermin adalah tempat mengaca diri, menbatap bayang-bayang wajah sendiri. Sebuah refleksi yang tak jarang melahirkan kebuncahan. Continue reading “Anak dan Cermin”

Matahari

Asarpin

Matahari terdiri dari terik yang panjang, biasanya memancar di saat siang. Sementara fajar hanya menyimpan terik yang sebentar untuk kemudian menghilang digantikan matahari yang garang. Lalu senja datang sesaat untuk digantikan malam yang juga terasa panjang.

Siang dan malam adalah waktu yang menyita sebagian besar pengarang. Tak banyak sastrawan yang betah berada pada siang dengan terik sering kelewat panjang itu. Continue reading “Matahari”

Bahasa »