Perayaan Kemurungan

Beni Setia
http://www.lampungpost.com/

Mitos yang mengeliling Li Tai-Po, seorang penyair liris China klasik, berkaitan dengan arak, bersampan setengah berhanyut di arus sungai, dan menulis puisi dengan kepekaan batin merespons berdasarkan apa yang tampil di kesadarannya—baik akibat rangsangan objektif kesekitaran atau melulu hanya cetusan imajinasi instinktif dalam batin. Baca selengkapnya “Perayaan Kemurungan”

Masyarakat Tanpa Orientasi Uang (Polemik Lanjutan)

Beni Setia
Kompas, 2 Mei 2010

BERBEDA dengan Binhad Nurrohmat yang menyatakan telah ada karya sastra dengan tema uang, dan berbeda dengan Edy A Effendi yang menyatakan bahwa tema uang itu tak pernah menjadi tema utama karena insting sastra selalu bergerak dalam keserentakan aneka tema paralogi; saya merasa bila titik terjauh dari tulisan Bandung Mawardi itu justru pertanyaan mendasar: kenapa uang tak pernah jadi obsesi manusia Indonesia dan direfleksikan dalam karya sastra. Baca selengkapnya “Masyarakat Tanpa Orientasi Uang (Polemik Lanjutan)”

Jiwa yang Diberkahi

(Tanggapan atas Puisi Puisi Nancy Meinintha Brahmana)
Beni Setia
Suara Karya, 7 Mei 2011

SEKITAR tiga tahun lalu, saya mendapat satu kumpulan cerpen unik dari seorang kawan. Sebuah Biola Tanda Cinta (tp, Surabaya, Maret, 2008). Antoloji bersama dengan dua belas cerpen dari dua belas penulis, di mana yang dua merupakan cerpen yang ditulis khusus untuk merayakan antoloji itu, sedang sepuluh cerpen lainnya telah dipublikasikan di majalah GAYa NUSANTA. Meskipun begitu: kesemuaan cerpen itu nyaris merupakan representasi rekaan yang bertolak dari pengalaman otentik eksistensialistik sebagai orang yang dimarjinalkan karena ketaknyamanan identitas, jiwa wanita dalam tubuh lelaki. Baca selengkapnya “Jiwa yang Diberkahi”