MADURA

Beni Setia *
surabayapost.co.id

INI adalah tenung. Ini adalah sihir yang membuat aku membatalkan naik ferry Ujung-Kamal paling pagi, dan memilih singgah di HI, Hotel Islamiah — yang berupa musala di dermaga penyeberangan. Menyapa penjaganya, yang sejak kanak aku kenal di Batang-batang, dan bahkan diajari huruf hijayiah, bacaan surah-surah pendek dan cara benar bersembahyang di mesjid kecil di Batang-batang. ”Kiai sakit?” katanya — santun meraih tangan dan mengecupnya. Aku menggeleng. Menguap. Idzin tidur dan dengan patuh ia berjaga seperti menjaga mayat yang belum ditakziahi keluarganya. Continue reading “MADURA”

Dandyisme Puisi ’80-an

Beni Setia
suarakarya-online.com

TULISAN Indra Tjahjadi (Suara Karya, 18/11. 2006), dengan konteks perpuisian dekade 80-an mengapungkan tiga poin. Oleh Indra Tjahjadi diungkapkan adanya dua genre perpuisian yang dominan di dekade 1980-an. Pertama, corak puisi gelap yang dominan. Dua, corak puisi sufistik yang signifikan menggejala. Dan ketiga: posisi kepenyairan Aming Aminoedhin dalam peta perpuisian saat itu. Continue reading “Dandyisme Puisi ’80-an”

Solitude

Beni Setia *
korantempo.com

SERATUS tahun lalu di sana tak ada pohon beringin. Dua ratus tahun kemudian di sana tetap tak ada pohon beringin. Meski, kata pemandu wisata, sekitar tujuh ratus tahun lalu di sana memang pernah tumbuh pohon beringin. Mula-mula kerdil, secetus biji yang terbawa burung terbang. Lalu tumbuh, besar dan rimbun sebagai gumpalan di tengah semak yang liar pada muka tanah yang bergelombang. Perkasa sebelum tua, ranggas dan melapuk, lalu menyerpih dalam proses alami. Menjadi sekedar pupuk yang menyuburkan semak, mungkin disebarkan angin dan tetap menyuburkan rumput. Ada untuk tiada dengan mengadakan yang lain, yang selama ini dirampas jatah hidupnya. Continue reading “Solitude”

PUISI DESKRIPTIF MARDI LUHUNG *

Beni Setia **

SUDAH sejak lama orang berpikiran, kalau membuat puisi itu hanya bermain kata-kata, membuat penggalan-penggalan kalimat dengan rentetan (keberadaan) kata-katanya itu sengaja dihadirkan dan diikat oleh semacam hukum permainan bunyi yang diulang-ulang, persanjakan. Acuan sederhana kreasi yang melahirkan banjir produksi, dan melahir sinisme tentang ujud kepenyairan yang terkesan melulu menginpetarisasi orang nyinyir yang suka mrepet kelewat cinta persanjakan–persamaan bunyi vokal di antara sederet konsonan yang tak berharga–, Continue reading “PUISI DESKRIPTIF MARDI LUHUNG *”

Bahasa »