PUISI DESKRIPTIF MARDI LUHUNG*

Beni Setia

SUDAH sejak lama orang berpikiran, kalau membuat puisi itu hanya bermain kata-kata, membuat penggalan-penggalan kalimat dengan rentetan (keberadaan) kata-katanya itu sengaja dihadirkan dan diikat oleh semacam hukum permainan bunyi yang diulang-ulang, persanjakan. Acuan sederhana kreasi yang melahirkan banjir produksi, dan melahir sinisme tentang ujud kepenyairan yang terkesan melulu menginpetarisasi orang nyinyir yang suka mrepet kelewat cinta persanjakan–persamaan bunyi vokal di antara sederet konsonan yang tak berharga–, Continue reading “PUISI DESKRIPTIF MARDI LUHUNG*”

Cekik

Beni Setia
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

PINTU terbuka. Lelaki langsing hanya berkaus masuk, dengan secangkir kopi dan rokok terselip di bibir. Ia menutup pintu dengan sepakan kecil kaki kiri. Melangkah tenang, nyaris tanpa bunyi debap sepatu. Meletakkan cangkir kopi -ruapnya menimbulkan kesan intim ruang tamu, dan bukan ruang interogasi. Menarik kursi. Duduk. Memainkan ujung bara, membersihkan sisik sisa pembakaran yang siap luruh jadi abu. Continue reading “Cekik”

Debu

Beni Setia
http://suaramerdeka.com/

WA ITAM seperti berusia empat puluh dua tahun. Saya katakan seperti –karena saat ditelusuri ke Pesantren Bayabah, Garut, kiai di sana mengerutkan kening. ?Kiai Dullah itu buyut saya,? katanya.

Saya mengusap wajah,–istigfar. Kiai yang ditemui di pesantren narik kolot *)itu masih muda, mungkin berusia 39 tahun, dan sangat gampang ditemui karena pesantren itu sangat sunyi –meskipun kiai itu sempat bercerita tentang masa kejayaan pesantren itu, 75 tahun yang lalu. Dan penelusuran ke Kampung Ciranggaek, ke salah satu santri seangkatan Wa Itam, malah mempertemukan saya dengan Buldanurzaman –cucu Ki Oyek Fathoni, teman Wa Itam yang telah 50 tahun meninggal. Continue reading “Debu”

Bermula dari Sriwijaya

Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/

AWAL dari fiksi berlatar Sriwijaya setebal xiv + 454 halaman ini, lihat Yudhi Herwibowo, Pandaya SriwijayaTTK2 Dendam dan Prahara di Bhumi Sriwijaya, Sebuah Novel, Bentang Pustaka, September 2009-adalah cinta buta Pramodawardhani, putri pewaris tahta Samaratungga dan keponakan Balaputradewa, si pemangku estafet trah Sailendra. Yang memutuskan menikah dengan Jatiningrat, keturunan Sanjaya, hingga kuasa atas Mataram kuno dan Sriwijaya akan jatuh ke tangan trah Sanjaya, spontan patriarki bukan milik trah Sailendra lagi. Continue reading “Bermula dari Sriwijaya”