Beni Setia
suaramerdeka.com
WA ITAM seperti berusia empat puluh dua tahun. Saya katakan seperti –karena saat ditelusuri ke Pesantren Bayabah, Garut, kiai di sana mengerutkan kening. “Kiai Dullah itu buyut saya,” katanya.
Saya mengusap wajah,–istigfar. Kiai yang ditemui di pesantren narik kolot *)itu masih muda, mungkin berusia 39 tahun, dan sangat gampang ditemui karena pesantren itu sangat sunyi –meskipun kiai itu sempat bercerita tentang masa kejayaan pesantren itu, 75 tahun yang lalu. Dan penelusuran ke Kampung Ciranggaek, ke salah satu santri seangkatan Wa Itam, malah mempertemukan saya dengan Buldanurzaman –cucu Ki Oyek Fathoni, teman Wa Itam yang telah 50 tahun meninggal. Continue reading “Debu”