“serial polemik sastra pornografi di dunia maya” – tiga

Beni Setia*
indopos online Minggu, 29 Juli 2007,
http://hudanhidayat.multiply.com/

Memahami Taufiq Ismail

SECARA metodologis, tulisan Taufiq Ismail, “HH dan Gerakan Syahwat Merdeka” (JP, 17/6/2007), yang merespons tulisan Hudan Hidayat, “Sastra yang Hendak Menjauh dari Tuhannya (JP, 6/5/2007), mengapungkan dua hal. Satu, konsep Islami, yang operasional saat melihat tubuh perempuan, sehingga tiap yang bukan muhrim tak boleh tampil terlihat auratnya — terlebih telanjang dan berzina. Continue reading ““serial polemik sastra pornografi di dunia maya” – tiga”

Cerita Singkat tentang Para Pembunuh Psikopat

Beni Setia
jawapos.com

WARTAWAN cepak yang kemarin memburu dan minta komentar itu mendadak muncul –entah dari mana ia tahu warung tempatku nongkrong– tepat ketika Yu Mah menghidangkan segelas kopi dan empat potong pisang goreng. Tanpa malu dan jauh dari mau menghargai privasiku ia segera menyorongkan koran sambil menghenyak di samping. Melirik ke Yu Mah dan minta dibuatkan kopi. Menyulut rokok dan bertanya apa aku keberatan dengan berita tentang kematian Marni di halaman muka. Continue reading “Cerita Singkat tentang Para Pembunuh Psikopat”

MPU, Provinsi Miskin dan Sastrawan Miskin

Beni Setia *
republika.co.id

Bertepatan dengan Temu Sastra III Mitra Praja Utama (MPU), yang berlangsung di Lembang, Bandung, 4-6 November 2008, di milis Apresiasi-Sastra terjadi polemik yang dipicu pengunduran diri salah satu peserta dari Jawa Barat, Lukman Asya. Keputusan iseng itu sendiri sebenarnya tanpa motif, meski kemudian ia menggarisbawahi kekecewaan pada Disbudpar Jawa Barat, sebagai pengayom acara yang yang tidak mau memberi uang transpor pada peserta. Continue reading “MPU, Provinsi Miskin dan Sastrawan Miskin”

Tempat Domisili Seorang Sastrawan

Beni Setia
suarakarya-online.com

Salah satu gema polemik yang tertinggal dari gairah berkesusastraan pada dekade 80-an kemarin adalah gagasan sastra kontekstual. Secara konsepsi gagasan sastra kontekstual ini menekankan pentingnya kesadaran seorang sastrawan, yang ber-domisili di satu tempat yang kongkrit, dan karenanya menyadari situasi sosial-politik dari tempatnya berdomisili, dan lalu meresponnya. Responnya itu bisa bermakna menandai ketidakadilan sosial, struktural atau nonstruktural, menandai pelaku-pelakunya, dan melakukan penandaan deskriptif dan/atau pemihakan dengan meluncurkan teks kritik atau teks emansipatorik. Continue reading “Tempat Domisili Seorang Sastrawan”

Diksi Traumatik Acep Zamzam Noor

Beni Setia *
cetak.kompas.com

Struktur kumpulan puisi terakhir Acep Zamzam Noor, Menjadi Penyair Lagi, (Pustaka Azan, 2007), dibangun dua fondasi: “Ada yang Belum Kuucapkan” (AyBK), yang terdiri dari 53 sajak, dan “Menjadi Penyair Lagi” (MPL), yang terdiri dari 38 sajak. Bukanlah satu kebetulan bila kumpulan itu diawali dengan sajak “Setelah Mencintaimu” (dari AyBK) dan diakhiri sajak “Di Malioboro” (dari MPL) yang memang diletakkan di pengujung. Continue reading “Diksi Traumatik Acep Zamzam Noor”

Bahasa ยป