Obituari: Sang Pemberani Itu Pergi…

Putu Fajar Arcana
Kompas, 3 April 2011

KEPERGIAAN Ratna Indraswari Ibrahim (62) di pagi hari membuat jantung saya berdegup kencang. Minggu (27/3), saya menerima kabar ia kembali dirawat di rumah sakit karena terserang stroke untuk kedua kalinya. Tahun lalu, di bulan Mei, saya berkunjung ke rumahnya di Malang. Ia tampak sehat dan sudah pulih setelah sebelumnya juga terserang stroke. Continue reading “Obituari: Sang Pemberani Itu Pergi…”

Umbu dan Bali

Wayan Budiartha *
kompasiana.com/budiartha

Bosan sebagai presiden penyair di Jogja Umbu Landu Paranggi lalu pindah ke Bali sekitar tahun 75. Bersama Gerson Poyk, Ki Nurinwa dan belasan penyair angkatan tahun 70an Umbu menggiatkan dunia kepenyairan Bali. Padahal di Jogja nama besarnya sudahpun sejajar dengan Ebiet G Ade, Emha, atau dengan yang di Jakarta seperti Sutarji dan sederetan nama besar lainnya. Continue reading “Umbu dan Bali”

Dowong: Kampung Halaman Dunia

(Catatan super sepeleh, super ringan, super ceketer dari penulis)

Sabrank Suparno

Saat Carlos Miquel Fonseca Horta (seniman asal Portugal) sms kalau dia hendak datang ke rumah di Dowong-Plosokerep, kecamatan Sumobito-Jombang, saya bilang ke ibu, “akan ada tamu, turis. Nanti suguhannya (jamuan) kita membikin jajan ndeso saja: gentilut, jemblem, utem-utem, brubi, gethuk. Makan pun kita sediakan nasi jagung, supaya ia merasakan jenis makanan ndeso.” Continue reading “Dowong: Kampung Halaman Dunia”

‘Dilarang Membaca?’

A.J. Susmana
http://www.lampungpost.com/

Paket bom yang ditujukan pada beberapa orang dengan disertai embel-embel buku akhir-akhir ini semakin menyudutkan dunia perbukuan di Indonesia. Paket bom plus buku itu memberikan nilai negatif pada perbukuan di Indonesia yang selama ini pun masih dianggap negatif dan minus. Continue reading “‘Dilarang Membaca?’”

Plagiarisme Taufiq Ismail

boemipoetra.wordpress.com

Catatan: Coba perhatikan kedua sajak di bawah. Sajak pertama adalah karya penyair Amerika bernama Douglas Malloch (1877 – 1938) dan sajak kedua konon karya penyair Angkatan 66 Taufiq Ismail. Pada “sajak” Taufiq Ismail tsb memang terdapat beberapa perubahan kata tapi perubahan tsb tidak membuat sajak itu menjadi sebuah sajak “baru” apalagi menjadi karya Taufiq Ismail! Paling tidak sajak kedua di bawah lebih pantas disebut sebagai “sajak saduran”. Mengklaim “sajak saduran” tsb sebagai karya sendiri adalah sebuah penipuan dan pencurian Hak Cipta seniman aslinya! Continue reading “Plagiarisme Taufiq Ismail”

Bahasa »