Andrea Hirata Sastrawan dari Kampung Belitong

Andrea Hirata
Pewawancara : Stevy Widia
http://www.suarapembaruan.com/

Ini kisah nyata tentang sepuluh anak kampung di Pulau Belitong, Sumatera. Mereka bersekolah di sebuah SD yang bangunannya nyaris rubuh dan kalau malam jadi kandang ternak. Sekolah itu nyaris ditutup karena muridnya tidak sampai sepuluh sebagai persyaratan minimal.

Pada hari pendaftaran murid baru, kepala sekolah dan ibu guru satu-satunya yang mengajar di SD itu tegang. Sebab sampai siang jumlah murid baru sembilan. Continue reading “Andrea Hirata Sastrawan dari Kampung Belitong”

Kisah Negeri yang Bergolak

Nurdin Kalim
http://majalah.tempointeraktif.com/

Meutia baru lima tahun umurnya. Gadis cilik periang itu kehilangan keceriaannya. Bocah yang selalu berkicau dengan aneka pertanyaan itu berubah menjadi pendiam. Perubahan sikapnya itu terjadi sejak ayahnya, yang dituduh simpatisan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), ditangkap dan dipulangkan setelah menjadi mayat. Continue reading “Kisah Negeri yang Bergolak”

Mencari Warna Setelah Tsunami

Utami Widowati
http://majalah.tempointeraktif.com/

“Tanah Aceh, nyeri kami nyeri daging dan tulang kami nyeri darah dan tangis kami nyeri gigil nyeri perih…”

INILAH sepenggal puisi Fikar W. Eda, penyair dan wartawan koran Serambi Indonesia di Jakarta, yang dimuat dalam buku Maha Duka Aceh. Antologi puisi dari Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Jakarta, ini terbit pada Januari 2005, hanya sebulan setelah bencana. Continue reading “Mencari Warna Setelah Tsunami”

Berkalam dan Bermadah

Amarzan Loebis
majalah.tempointeraktif.com

MASA-masa remaja dan belia…di Riau adalah bayang-bayang di keremangan…. Demikian kalimat berlagu Tenas Effendy di depan Majelis Konvokesyen ke-35, Dewan Canselor Tun Abdul Razak di Bangi, Selangor Darul Ehsan, Malaysia, Sabtu 17 September lalu. Siang itu “Pak Tenas”-demikian ia biasa disebut-menerima Anugerah Kehormatan Doktor Persuratan dari Universiti Kebangsaan, Malaysia. Continue reading “Berkalam dan Bermadah”

Peluncuran Buku: Sebuah Ruang Jeda Inggit

Zulkarnain Zubairi
Lampung Post, 28 Maret 2010

Tidaklah mudah menafsir sajak-sajak Inggit Putria Marga yang terhimpun dalam Penyeret Babi (Anahata, Bandar Lampung, 2010). Puisi Penyeret Babi yang kemudian menjadi judul kumpulan sajak perdana Inggit pun menjadi sebuah ambiguitas tersendiri.

Menurut penyair Ahmad Yulden Erwin, yang menjadi pembahas bersama Iswadi Pratama dalam peluncuran buku ini di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Lampung, Sabtu (27-3) malam, judul yang sebenarnya biasa saja. “Nggak aneh, tetapi menarik,” kata Erwin. Continue reading “Peluncuran Buku: Sebuah Ruang Jeda Inggit”

Bahasa ยป