Makna Simbolik dalam Nyepi

Arsyad Sobby Kesuma
http://www.lampungpost.com/

Jika direnungkan, ada berbagai macam akar pemicu munculnya konflik yang terjadi di negeri ini. Dan yang tak kalah pentingnya menurut hemat saya—alasan ini justru adalah pemicu awal munculnya konflik tersebut—adalah adanya rasa ketidaksiapan umat beragama untuk hidup secara berdampingan dalam masyarakat yang multikultural. Continue reading “Makna Simbolik dalam Nyepi”

Rangkaian Gerbong Seni Rupa Lampung

Salvator Yen Joenaidy
lampungpost.com

Sebuah rangkaian kereta akan sampai di mana? Di Kotabumikah atau di Kertapatikah? Itu tergantung dari beberapa unsur, antara lain bagaimana kekuatan lokomotif sebagai faktor kunci penggeraknya. Perlu pula dicermati, diteliti, juga sejauh mana kekuatan/keeratan mata rantai penyambung di antara masing-masing gerbongnya. Apalagi jika rangkaian gerbong tersebut sudah sedemikian panjang, dengan berbagai kondisi. Ada yang per pegasnya patah, ada yang as rodanya bengkok, dan lain-lain. Yang pasti, perlu kerja ekstrakeras untuk persiapan sebelum rangkaian gerbong panjang tersebut bergerak melaju. Continue reading “Rangkaian Gerbong Seni Rupa Lampung”

Setelah mereka belajar dari peristiwa Dili

Agus Basri, Ahmad Taufik, Kelik M. Nugroho
http://majalah.tempointeraktif.com/

PENYAIR Emha Ainun Nadjib meloncat ke atas podium. Ia mengenakan pakaian hitam-hitam, seakan menggambarkan suasana dukacita. Lalu, suaranya pun melengking, membacakan puisi, yang diberinya judul Nipah-Nipah.

”Nyatakanlah kebenaran, betapa pahit pun rasanya. Maka, kami duduk dan berdiri di sini, agar kami telan juga rasa pahit hati saudara-saudara kami di Banyuates, Sampang, Madura …,” teriaknya. Continue reading “Setelah mereka belajar dari peristiwa Dili”

Pembersihan Massal Sastra Indonesia di Banyumas

Abdul Aziz Rasjid

Tulisan ini adalah tanggapan atas sebuah perrnyataan dan pertanyaan pendek saya di facebook, 16 juni 2010 jam 20:36. Isinya sebagai berikut:

Dua tahun lalu saya menemukan catatan dokumentasi kegiatan sastra di Banyumas di tumpukan majalah toko buku loak, judulnya “Kancah Budaya Merdeka” (HORISON/O7/XXIX/66). Membaca catatan itu seperti mengantarkan saya pada geliat kegiatan sastra di Banyumas 16 tahun silam. Jalan benarkah jika dokumentasi itu saya temukan begitu kebetulan di toko buku loak? Continue reading “Pembersihan Massal Sastra Indonesia di Banyumas”

Bahasa »