Memberangus Cinta

Imron Rosyid
http://www.tempointeraktif.com/

Lusinan orang bak sepasukan kerajaan dengan hiruk-pikuk sorak sorai pembangkit semangat berbaur dengan suara entakan kaki-kaki tanpa sepatu. Mereka berlari dan jalan tanpa alur, mengikuti irama yang mereka buat sendiri. Mereka berputar-putar mencari arah meninggalkan dua sosok lelaki dan perempuan yang duduk berhadap-hadapan. Continue reading “Memberangus Cinta”

Dari Sakral Menjadi Banal

Hanibal W. Y. Wijayanta, Syaiful Amin
majalah.tempointeraktif.com

SEJARAH mencatat, tayub muncul pada zaman Kerajaan Kediri, abad ke-11 Masehi. Mulai berkembang di Jawa bagian timur dan tengah, tradisi ini tercatat dalam buku Kakawin Bharata Yudha karya Mpu Sedhah dan Mpu Panuluh pada 1079 Saka atau 1157 Masehi. Pada pupuh XIII bait ke-8 terdapat kisah para Pandawa yang sedang nayub. Prof Dr. R.M. Sutjipta Wirjosuparto (1968) menerjemahkan nayub sebagai “menari-nari dan bergembira dengan riuhnya”. Continue reading “Dari Sakral Menjadi Banal”

Bakti Seorang Putri [Sekar Pembayun]

Edi Sedyawati
http://majalah.tempointeraktif.com/

SEORANG raja, Panembahan Senapati, memberikan tugas kenegaraan kepada putri sulungnya, Sekar Pembayun. Dengan daya pikat kewanitaannya, putri ini harus menaklukkan seorang pemberontak yang tangguh: Ki Ageng Wanabaya dari Mangir. Si putri dan pengiringnya lalu turun ke Mangir, menyamar sebagai penari keliling. orang-orang tertarik. Bahkan Ki Ageng Mangir sendiri terpikat, dan Sekar Pembayun dipersuntingnya. Continue reading “Bakti Seorang Putri [Sekar Pembayun]”

Kisah Mangir dalam Sastra Basa

Wisnu Kisawa
suaramerdeka.com

KISAH Ki Ageng Mangir Wanabaya selama ini dikenal menyimpan banyak nilai kemanusiaan. Lantas menjadi seperti apa, jika lakon yang penuh dengan human interest itu dibawakan oleh para ahli sastra seperti para dalang?

Teriakan Ki Ageng Wanabaya yang begitu keras membuat Pamikatsih harus mundur beberapa langkah. Air pun kemudian menetes dari kedua kelopak matanya. Namun toh air mata sang istri itu tetap saja tidak menyurutkan amarah Ki Ageng yang memang tengah begitu meledak. Continue reading “Kisah Mangir dalam Sastra Basa”

Ki Ageng Giring

Moyo Surokarto
http://www.facebook.com/topic.php?uid=108078399210773&topic=158

Ki Ageng Giring adalah salah seorang keturunan Brawijaya IV dari Retna Mundri, yang hidup pada abad XVI. Dari perkawinannya dengan Nyi Talang Warih melahirkan dua orang anak, yaitu Rara Lembayung dan Ki Ageng Wanakusuma yang nantinya menjadi Ki Ageng Giring IV. Continue reading “Ki Ageng Giring”

Bahasa ยป